Jakarta, 27 November 2012
“Ayah....” semua berteriak sangat histeris ketika melihat sosok yang selama ini selalu menjaga keluarga kecil terkulai lemah dan jatuh dari tempat tidur.
“Ayah kenapa, Bu?” tanya Ryana.
“Mbak, ayah gak kenapa-kenapa kan? Ayah? Ayah gak boleh pergi ninggalin Rayna. Rayna gak mau sendiri. Rayna janji gak akan nakal lagi mulai sekarang,” kata Rayna sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ayahnya.
Kapanikan semakin menjadi, kendaraan saat itu sangat sulit. Tidak ada telepon genggam untuk dijadikan alat untuk komunikasi. Padahal untuk menelpon dokter saja tidak bisa.
“Rayna....” Ayah Rayna mengusap wajah Rayna yang sudah sembab.
“Jaga Mbak dann Ibumu. Jangan sampai ada orang yang berani menyakiti mereka. Jangan ada siapapun yang berani menjatuuhkan nama baik mereka. Berjanjilah kepada ayah kalau kamu akan menjaga mbak dan ibumu,” kata Ayah Rayna.
“Ayah... Rayna janji ayah, tidak ada siapapun yang boleh menyakiti ayah dan Mbak Febry. Rayna janji. Ayah jangan khawatir, mereka akan baik-baik saja.” Rayna meyakinkan ayahnya kalau dia akan selalu ingat tentang apa janjinya itu. Tidak akan ada orang yang menyakiti kakak dan ibunya walaupun hanya sekecil debu. Tidak akan pernah.
“Kalian berdua, jangan pernah sakiti ibu kalian, berjanjilah sama ayah kalau kalian akan belajar dengan sungguh-sungguh dan menjadi anak yang sukses. Maafkan ayah, ayah tidak bisa menjaga kalian lagi.”
“Ayah gak boleh ngomong kaya gitu. Ayah pasti sembuh, Rayna gak mau ayah kenapa-kenapa. Ibu, bilang sama Ayah kalau kita akan tetap bersama kan?” kata Rayna menangis.
“Ibu... jaga anak-anak.”
“Ayah!!!!” Rayna menangis sangat keras saat melihat ayahnya sudah terkapar dan tidak berdaya. Febry, kakak Rayna memeluk Rayna dengan sangat erat. Ikut menangis dan merasakan kepedihan Rayna. Ibu rayna juga sama. Memeluk tubuh Ayah Rayna yang sudah tidak bisa lagi bergerak dan melalukan apa-apa.
“Innalillahi wainnailaihi roji’un,” kata Ibu Rayna.
Rayna merasa kalau sekarang kekuatannya berkurang. Ayah yang selama ini selalu Rayna banggakan, selalu mengantarkan Rayna ke sekolah dengan sepeda, selalu membela Rayna, dan selalu memberikan semnagat kepada Rayna, kini sudah hilang dan tidak akan pernah kembali.
Rayna tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan, saat itu usia Rayna baru menginjak 12 tahun, tapi Rayna sudah harus kehilangan ayahnya. Febry kakak Rayna masih berusia 17 tahun. Mereka berdua harus menjadi piatu sekarang.
Setelah pemakaman selesai, Rayna tidak mau diajak pulang oleh Ibu dan Kakaknya. Rayna bilang kalau Ayah pasti takut kalau sendirian. Rayna harus menunggu dan menemani Ayah. Kasihan Ayah tidak ada teman ngobrol. Karena biasanya Ayah selalu menceritakan kisah-kisah lucunya kepada Rayna.
“Ayo sayang, kita harus pulang?” pinta Ibu Rayna.
“Ibu pulang dulu sama Mbak Peb, nanti Rayna nyusul. Rayna masih rindu sama Ayah,” kata Rayna sambil mengusap batu nisan ayahnya.
“Ibu, kita pulang dulu. Pasti ibu lelah, kalau ibu sakit, kita sudah gak punya siapa-siapa lagi,” kata Febry sambil memeluk ibunya. Ibu Rayna mau tidak mau harus pergi meninggalkan makam yang berjarak hanya 150 meter dari rumahnya itu. Masih ada dua tanggungan yang harus Ibu Rayna lakukan, yaitu membesarkan kedua anaknya dengan maksimal mungkin.
“Ayah... ayah di sana jangan lupa sholat ya, ayah selalu ngingetin Raynna untuk sholat. Ayah, jangan lupa pakai payung juga, di sini sudah gerimis ayah. Tapi, pasti sekarang ayah sudah di surga, jangan lupa sama Rayna ya ayah,” kata Rayna sambil menangis.
Hujan turun membasahi makam. Air mata Rayna semakin deras membasahi pipinya. Hujan mengingatkan kepada ayahnya yang selalu mengajaknya mengamati hujan dari jendela rumah. Ayah Rayna pernah mengatakan, jangan benci hujan, karena terkadang hujanlah yang mempertemukan kita dengan seseorang. Bahkan, tidak ada alasan untuk Rayna membenci hujan, karena hujan yang mampu menyamarkan air mata Rayna.
“Ayah... Rayna rindu ayah,” isak Rayna sambil memeluk gundukan tanah yang sudah basah dengan air hujan. Harapan memang ada, meskipun Rayna yakin, harapannya tidak akan pernah terwujud. Bagi Rayna, kehilangan Ayahnya sama dengan kehilangan salah satu tangannya. Kekuatan yang selama ini menjadi tenaga Rayna, kini harus pergi untuk selamanya. Hanya kenangan, yang kini Rayna jadikan acuan.
“Ayah.....”
Tiba-tiba sebuah berwarna ungu menghalangi turunnya hujan. Rayna menengadahkan kepalanya untuk melihat dari mana asal payung itu.
Seorang anak kecil sepantaran dengan Rayna yang berdiri di samping Rayna. Memberikan senyuman sebagai tanda sambutan. Rayna tidak peduli dengan sosok anak kecil itu, pasti dia hanya sedang bermain. Rayna tidak kenal dengan anak itu, Rayna tidak tahu siapa dan darimana anak itu, pasti hanya orang yang ingin mengganggu Rayna. Maaf, sekarang Rayna sedang sedih.
“Jangan ganggu aku, bermainlah di tempat lain!” kesal Rayna.
Anak itu tersenyum tulus. Bahkan hujan, tidak mampu menyamarkan senyuman tulus anak lelaki itu. “Kenapa masih di situ? Gak takut sama hujan?” katanya.
Buat apa takut sama hujan, hujan juga gak pernah gigit. Bagi Rayna hujan adalah berkah yang Tuhan berikan kepada kita. Jadi, kenapa harus takut.
Anak laki-laki itu lalu ikut duduk di samping Rayna tidak perduli kalau tanah itu basah dan kotor. Menepuk bahu Rayna dengan pelan.
“Kamu harus pulang ada Ibu dan Kakak kamu yang harus kamu pikirkan,” kata anak itu.
Rayna menatap anak lelaki itu dengan tatapan tidak paham.
“Bagaimana kamu tahu?” tanya Rayna.
Lagi-lagi anak itu hanya tersenyum. “Kamu seharusnya bersyukur, kamu masih punya Ibu dan Kakak. Sedangkan aku, aku hannya bisa tinggal bersama nenekku saja. Ayah dan Ibuku sudah tidak ada. Ibuku meninggal saat melahirkan diirku, ayahku meninggal saat aku TK karena kecelakaan motor,” katanya. Apa hubungannya dengan Rayna?
“Kamu harus beryukur karena masih punya orang tua, meskipun itu hanya seorang ibu. Jangan siksa diri kamu sendiri untuk berdiri di sini dan hujan-hujanan. Kamu juga bukan satu-satunya orang yang bersedih di sini, ada kakakmu dan ada Ibumu yang paling sedih, dia juga harus mennaggung semuanya, jadi pulanglah. Ibumu masih membutuhkanmu,” kata anak itu.
Rayna diam untuk beberapa saat.
Rayna tersadar, kemarin ayahnya mengatakan bahwa Rayna harus menjaga ibu dan kakaknya. Anak ini ada benarnya juga, ayah rayna sudah tenang di sana. Pasti ayahnya juga akan sedih kalau melihat Rayna terpuruk seperti ini. Saatnya Rayna bangkit dan mewujudkan janji-janjinya untuk ayahnya.
“Kamu benar, aku tidak boleh seperti ini. Terima kasih.” Rayna lalu memeluk anak itu dan mencium pipi kiri anak lelaki itu sebagai tanda terima kasih. Terima kasih karena sudah mengingatkan Rayna, terima kasih karena sudah membuat seorang Rayna kembali seperti semula.
Rayna lalu bangkit dari tempat duduknya dan mencium batu nisan ayahnya. “Ayah, Rayna janji akan membahagiakan Ibu dan Mbak Peb, Ayah jangan khawatir, Rayna pasti bisa!” kata Raya dengan keyakinan penuh.
“Bawa payung ini, sekarang kamu pulang. Rumahku dekat di sekitar sini jadi bawa saja payungku,” kata anak itu sambil memberikan payung itu kepada Rayna.
Rayna lalu menerima payung itu dan pergi berlari meninggalkan makam ayahnya.
“Nama kamu siapa?” teriak anak lelaki itu.
Rayna menghentikan langkahnya dan berbalik. “Rayna! Rayna Ramadhani!”
Anak itu tersenyum menatap kepergian Rayna.
“Rayn.”
*******************************************
NB: Ini masih prolog. Akan aku publish part 1 sesegera mungkin. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Terima kasih....
Salam
Eka Marliana Saputri


No comments:
Post a Comment