Melihatmu
itu seperti datangnya hujan saat musim kemarau panjang. Menyejukkan dan
memberikan aroma khas tersendiri di dalam hidupku. Aroma itu tetap sama meski
sudah lama tidak nampak.
~
Derren Wijaya
*****^^^^*****
Rayna
masih terpikir dengan Kakak osis yang bernama Derren. Kenapa Derren sangat
terkejut saat mengetahui kalau nama Rayna adalah Rayna Ramadhani. Kenapa Derren
sangat terkejut saat tahu kalau Rayna pingsan dna masuk UKS.
“Siapa
si Kak Derren itu?” kata Rayna sambil melamun.
“Hayo
ngalamunin apa, lo!” kata Bagas sambil mengagetkan Rayna.
“Bisa gak si gak usah ngagetin aku. Kamu gak tau apa kalau aku punya riwayat penyakit jantung,” kata Rayna kesal.
“Uluh-uluh... coba deh Ray, elo ngomongnya gak usah pake aku kamu, gak cocok tau buat elo. Elo kan cewek tapi setengah cowok,” ejek Nando.
“Aku cewek tulen oon!”
“Iya-iya deh Rayna yang cantik dan jelita,” kata Nando sambil merangkul Rayna.
“Ihh gak usah pegang-pegang.” Rayna merasa risih juga kalau Nando merangkul dirinya.
“Ray!!! Dicari!!!” teriak Jasmin dari luar kelas yang baru saja masuk.
“Siapa?”
“Kak Derren.”
‘Deg!’ kenapa mendadak jantung Rayna jadi kaya gini ya? Kok jadi berdetak tidak karuan. Apa jangan-jangan Rayna memang punya riwayat penyakit jantung.
“Cie-cie... uluh-uluh gue baru tahu kalau si Rayna manusia setengah cewek itu bisa naklukin hati ketua Osis yang terkenal itu?” goda Bagas.
“Apaan si!” Rayna lalu keluar dengan perasaan kacau. Apa jadinya kalau semua orang melihat Rayna yang sedang berdua dengan ketua Osis SMA Taruna Wijaya. Bisa-bisa akan terjadi kekacauan. Ditambah lagi, Rayna hanya murid baru yang tidak tahu apa-apa.
“Ada apa kak?” tanya Rayna setelah berada di depan kelas.
“Emmm enggak apa-apa si. Cuma mau mastiin aja kalau kamu berangkat sekolah,” kata Derren.
“Tau darimana kalau aku kelasnya di sini?” tanya Rayna lagi.
“Ohh tadi gak sengaja ketemu Jasmin diparkiran, jadi aku tanya aja,” jelas Derren. Rayna hanya menganggukkan kepala. Disisi lain Rayna juga bingung mau ngapain, soalnya Rayna juga gak begitu kenal Derren.
“Oh iya, soal topi yang kemarin aku pinjam, masih dicuci ibu tadi pagi. Jadi belum bisa aku kembaliin sekarang, makasih sudah mau minjamin.” Akhirnya Rayna menemukan kalimat pembuka yang tepat.
“Emm santai aja si, aku juga gak masalah. Oh iya, kalau ada imbalannya gimana sebagai tanda terima kasih,” kata Derren.
“Imbalan?” Rayna tidak paham maksud dari Derren itu apa? Memangnya Derren tidak ikhlas meminjamkan topi itu?
Derren terkekeh melihat wajah polos Rayna. Sekaget itu dia mendngar kata imbalan. Padahal imbalan yang Derren minta itu tidak seseram yang dia bayangkan.
“Kak, kalau kakak mau minta imbalan uang satu juta atau apapun itu, maaf aku gak punya,” kata Rayna.
‘Kalau tahu ada imbalannya gak mau juga aku dipinjamin topi,’ batin Rayna.
“Gak usah panik kaya gitu. Aku gak nyuruh kamu buat ngasih aku uang kok. Itu gak ada gunanya. Aku juga gak nyuruh kamu buat gotong patung liberty ke sekolah. Sederhana kok permintaan aku,” kata Derren sambil tersenyum.
“Apaan?” kenapa pikiran Rayna mulai tidak enak seperti ini ya?
“Nomor telepon kamu,” kata Derren sambil mengeluarkan Hpnya dari saku celana.
“Ha?” Rayna melongo mendengar Derren mengucapkan itu.
“Imbalannya, cukup kamu ngasih aku nomor telepon kamu,” jelas Derren.
Rayna mimpi atau gimana si? Kok Derren meminta nomor HP nya. Ketua Osis meninta nomor telepon kepada adik kelas? Apa itu tidak menjatuhkan harkat dan martabat Derren sebagai Ketua OSIS? Jasmin, Bagas, dan Nando yang melihat peristiwa pagi itu tertawa dari balik jendela. Sial! Mereka mengintip. Rayna malu, sungguh Rayna malu.
“Emmm begini kak, gak bagus juga kalau seorang ketua Osis meminta nomor telepon ke adek kelasnya. Jadi, maaf Rayna gak bisa kasih,” kata Rayna gugup.
“Oke tidak masalah. Mungkin bukan rejeki aku. ya sudah kalau begitu, aku kembali ke kelas dulu, belajar yang rajin,” kata Derren sambil mengusap kepala Rayna yang lalu pergi meninggalkan Rayna.
Rayna menghela napas, sebenarnya apa mau Derren. Kenapa Derren selalu saja muncul? Semua memang tidak adil, Rayna tidak tahu apa-apa tentang Derren.
“Ray! Kok elo tolak si?” kata Jasmin yang kelauar dari dalam kelas dengan kesal.
“Ya, mau gimana lagi?”
“Seharusnya elo kasih Rayna sayang. Masa iya seorang Kakak Osis elo tolak begitu aja, itu malah buat dia malu!” Jasmin masih kesal dengan Rayna.
“Kok gitu?” Rayna merasa aneh dengan Sasmin. Rayna menolak Derren karena Rayna tidak mau Derren malu. Sekarang Jasmin berbeda pendapat tentang dia. Bagi Jasmin, seorang Derren di tolak itu malah membuat Derren malu.
“Gini Neng Rayna si cewek setengah cowok....”
“Ngeselin deh!” ketus Rayna.
Nando meringis mendapat omelan dari Rayna. “Begini, Ray biar gue yang jelasin. Maksud Jasmin tuh gini, seorang ketua Osis udah terang-terangan minta nomor telepon sama elo, tapi elo tolak begitu aja. Menurut elo kalau elo jadi Kak Derren, elo malu gak?” tanya Nando serius. Baru kali ini Nando bicara serius, biasanya gak pernah Nando bicara serius.
“Malu lah,” jawab Rayna.
“Nah, pinter. Kak Derren juga malu, Ray. Apalagi ditolak di tempat kaya gini. Udah turun harga dirinya,” kata Nando.
“Turun jadi berapa?” tanya Bagas.
“Setengah ons. Kaya otak lo, lemot!” jawab Nando sadis.
“Terus aku harus gimana?” tanya Rayna bingung.
“Ini ni, kalo punya temen tapi begonya tingkat dewa, susah!” kesal Nando.
“Bukannya elo juga bego ya?” sindir Bagas.
“Gue pinter dari orok,” jawab Nando.
“Kalo elo pinter, kenapa baru tahu kemarin kalo kak Derren itu Ketos,” skak Bagas.
“Takdir.” Jawaban singkat, padat, dan jelas dari Nando. Bagas hanya mencibir tidak jelas.
“Elo minta maaf lah sama Kak Derren,” kata Nando.
“Ogah! Harga diri aku nanti yang turun jadinya,” jawab Rayna.
Jasmin menepuk jidatnya karena sedikit kesal dengan Rayna. “Makanya, Ray. Kalau mau apa-apa itu di perhitungkan dulu. Jangan asal!” omel Jasmin.
“Ya udah si, udah kejadian juga, mau gimana lagi. pusing amat!” Rayna langsung masuk ke dalam kelas malas mengikuti obrolan tidak berfaedah teman-temannya.
“Dasar Rayna!” teriak jasmin kesal.
Pulang tlah tiba, Rayna berlari menuju parkiran untuk mengambil sepedanya. Payung warna ungu masih tergeletak sama di keranjang sepedanya. Rayna tersenyum melihat payung ungu itu.
“Semoga kita bisa bertemu lagi,” kata Rayna sambil mengusap payung itu.
“Mau pulang dek?” tanya seseorang mengagetkan Rayna.
“Eh iya kak.” Rayna segera menoleh ke asal suara. Derren, kenapa dimana-mana ada Derren. Dunia serasa sempit ya?
“Payungnya bagus,” kata Derren.
“Dikasih seseorang, kak.” Rayna menjawab jujur, karena payung itu memang dari seseorang.
“Pacar?”
“Kepo!” Rayna segera pergi meninggalkan Derren yang tertawa mendengar Rayna mengatakan kepo.
“Aduh??? Oon banget si. Kenapa harus ngomong gitu di depan Kak Derren. Ini mulut emang gak bisa dijaga ya?” sesal Rayna.
Rayna yakin, setelah kejadian penolakan tadi, setelah Rayna mengatakan kata KEPO dengan ketus, Derren akan marah dengannya.
“Gimana kalau Kak Derren marah ya?” tanya Rayna pada diri sendiri.
“Ya udah si malah Alhamdullillah, gak ada yang nemuin aku lagi,” kata Rayna yakin. Rayna menggayuh sepedanya dengan cepat.
20 menit kemudian, Rayna sudah sampai di rumah. Kemudian meletakkan sepedanya di teras rumah dan mengetuk pintu rumah.
“Assalamualaikum,” kata Rayna.
“Wa’alaikumsallam.” Rayna menjabat tangan Fara. Seperti biasa, Rayna melihat Fara sedang menjahit baju.
“Makan dulu sayang?”
“Nanti, Bu. Rayna masih kenyang.” Rayna berjalan menuju kamarnya. Karena ketenangan paling nyaman itu di kamar sendiri.
Masih dalam pikirannya, Rayna memikirkan Derren lagi. Apa tadi dia sudah terlalu sadis ya? Menolak seorang Derren. Padahal hanya menolak memberikan nomor telepon, tapi Jasmin hebohnya kaya udah nolak cinta aja. Bukannya berlebihan ya?
“Ahh... Jasmin berlebihan kok,” kata Rayna.
Rayna menutup matanya, pikirannya terlalu lelah. Sudah cukup tadi dia bertemu guru yang langsung memberikan tugas di hari pertamanya masuk sekolah, namanya Bu Rere. Rayna tertidur di dalam mimpi indahnya. Padahal sudah pukul setengan 4 sore, seharusnya Rayna mandi dan melakukan kegiatan lain selain tidur. Tapi? Sudahlah Rayna lelah, otaknya butuh istirahat, bukan workhard.
“Rayna.” Fara membangunkan Rayna yang masih tertidur.
“Ada apa, Bu?”
“Bangun,” kata Fara.
“Udah pagi ya, Bu?”
“Pagi apanya, udah maghrib. Sekarang bangun, mandi dulu,” kata Fara.
Rayna membuka matanya dan melihat keluar jendela, memang benar sudah maghrib. Bahkan, adzan maghrib juga sudah terdengar. Rayna lalu beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Mengambil handuk yang tersampir di gantungan.
Selesai mandi, Rayna bergegas menuju meja belajarnya. Mengerjakan soal yang diberikan Bu Rere tadi pagi.
“Ini maksudnya gimana si?” Rayna ngedrumel sendiri.
Rayna membuka satu persatu buku paket yang diberikan Bu Rere. Mencari cara agar mendapat jawaban yang tepat.
“Ray, gak makan dulu?” kata Fara.
“Tanggung, Bu. Masih sibuk.”
“Jangan lupa makan,” ingat Fara.
Rayna mengangukkan kepala, lalu fokusnya kembali ke soal-soal yang membuat kepalanya nyut-nyutan.
“Tok-tok-tok.” Suara ketokan pintu terdengar dari luar.
“Bu, ada tamu!” teriak Rayna dari meja belajar. Fara keluar dari dapur dengan tergopoh-gopoh.
“Kenapa gak dibukain si?”
“Mager, Bu,” kata Rayna sambil meringis.
Fara geleng-geleng kepala, mau tidak mau Fara harus membukakan pintu. Rayna kembali berkonsentrasi dengan soal-soal yang ada.
“Assalamualaikum,” sapanya.
“Wa’alaikumsalam,” jawab fara.
“Rayna ada?” tanyanya.
“Rayna! Ada yang nyari!” teriak Fara.
Rayna menghela napas kesal. Ada saja ya g mengganggu dirinya ini. Apa mereka tidak tahu apa kalau dia sedang pusing. Rayna lalu keluar untuk menemui seseorang yang katanya sedang mencari dirinya.
“Kak Derren!” kejut Rayna. Darimana Derren tahu rumah Rayna. Apa tadi Derren mengikuti Rayna? Tidak mungkin, Rayna tadi tidak melihat siapapun di belakangnya.
“Hay?” sapa Derren. Rayna hanya mengangguk lalu meringis.
“Masuk dulu sini, gak enak juga ngobrol di luar,” suruh Fara.
“Bu, boleh minta izin. Saya mau mengajak Rayna keluar, boleh kah? Saya janji jam 9 nanti Rayna sudah sampai rumah,” kata Derren.
Fara menatap Rayna sebentar, Rayna memberi isyarat supaya jangan. Pasti ada maksud tersendiri.
“Baiklah, janji jam 9 pulang ya?” kata Fara. Rayna melotot melihat Fara yang dengan mudah mengijinkan Derren. Padahal Fara bukan orang seperti ini. Untuk pergi dengan Jasmin saja kadang Fara tidak boleh, lha ini pergi dengan Derren, Fara mudah sekali memberi ijin.
“Terima kasih, Bu?” kata Derren senang.
“Sama-sama. Kamu gak mau ganti baju dulu, Ray?” kata Fara.
“Ya udah aku ganti baju dulu, kak.” Derren menganggukkan kepala.
“Masuk dulu Derren?” Derren lalu mengikuti Fara untuk masuk ke dalam rumahnya. Di dalam terlihat foto-foto masa kecil Rayna. Derren tersenyum melihat foto-foto itu. Lucu sekali memang. Rayna tidak berubah dari dulu.
‘Ternyata benar dia orangnya,’ batin Derren.
“Itu foto Rayna waktu masih kecil,” kata Fara.
“Lucu.”
“Seandainya ayahnya masih hidup, dia pasti bahagia melihat putri kesayangannya sudah dewasa,” kata Fara.
“Om juga pasti bahagia di sana melihat Tante berhasil mendidik Rayna jadi seperti ini,” kata Derren yakin. Fara tertawa, ingatannya kembali ke masa lalu. Karena itu adalah sebuah janji yang harus ditepati. Tidak ada orang tua yang mau melihat anaknya sengsara.
“Bu, Rayna berangkat dulu ya?” kata Rayna yang sudah keluar dari kamarnya.
Derren tersenyum melihat penampilan Rayna yang super simple. Celana jeans dengan baju warna putih dan rambut terurai begitu saja. Rasanya ada sisi feminim dan tomboy yang Rayna perlihatkan malam ini.
“Hati-hati di jalan,” kata Fara.
“Kita pergi dulu, Bu.” Derren mencium punggung tangan Fara.
“Iya hati-hati.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsallam.”
Rayna dan Derren lalu keluar dengan menggunakan motor Derren. “Dipakai.” Derren memberikan helm kepada Rayna.
“Pegangan ya?” Derren meminta Rayna untuk berpegangan dengan dirinya.
Derren mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
“Lagi sibuk?” tanya Derren.
“Ngerjain tugas si,” jawab Rayna.
“Anak rajin.”
Rayna kesel juga mendengar tawa Derren. Rasanya kaya mengejek gitu. Apalgai ditambah senyuman Derren, Rayna semakin kesal juga. Kenapa gak marah aja sama Rayna gitu. Kan udah ditolak tadi.
“Mau kemana?” tanya Rayna.
“Temenin duduk di taman,” kata Derren.
“Ha???” lagi-lagi Rayna tidak habis pikir. Derren jauh-jauh datang ke rumah Rayna Cuma mau nyuruh Rayna duduk nemenin Derren di taman. Astaga!!! Rayna ingin lompat dari motor Derren, dan kembali pulang. Mengerjakan tugas lebih penting daripada kencan.
Ehh salah bukan kencan, nemenin duduk di taman.
25 menit kemudian sampai di taman, motor di letakkan di tepi jalan. Rayna turun dari motor Derren.
“Ayo!” ajak Derren.
“Sebentar!” Rayna berusaha melepas helm itu. Setelah terbuka helm dilepas dan diletakkan di motor derren.
“Mau ngapain di sinni?” tanya Rayna.
“Emmm minta nomor telepon,” kata Derren.
Rayna tertawa mendengar jawaban dari Derren. Derren bercanda atau bagaimana?
“Kak, kakak gak becanda kan? Kakak jauh-jauh ke rumah aku ngajak aku ke sini Cuma buat minta nomor telepon,” kata Rayna masih tertawa.
“Lucu ya?”
“Lucu banget.” Rayna masih tertawa lepas. “Kan bisa besok di sekolahan, kenapa harus susah-susah ke sini si?” kata Rayna masih tertawa.
“Kalau di sekolah pasti kamu gak akan ngasih, dek.”
“Emang kalo di sini ngasih?” Rayna berusaha menahan tawanya.
“Emmm kalau belum lagi, berarti belum beruntung.”
“Kak Derren, maaf ya sebelumnya. Kakak itu ketua osis. Ketua osis gak pantes buat minta nomor telepon sama adek kelasnya,” jelas Rayna.
“Berarti sekarang dikasih,” kata Derren.
“Kok gitu?”
“Karena sekarang kakak bukan ketua osis,” jawab Derren.
“Ha???” kali ini Rayna yang bingung.
“Jabatan ketua osis itu kan hanya di lingkup sekolah. Sedangkan sekarang kita di luar. Jadi, kakak bukan ketua osis.”
“Kok gitu?”
“Karena kakak bukan ketua osisi,” jawab Derren.
“Ha???”
“Sekarang, kasih nomor telepon kamu?”
“Kakak gak marah?"
“Marah kenapa?” bingung Derren.
“Tadi udah aku tolak.”
Kali ini gantian Derren yang tertawa mendengar ucapan Rayna.
“Apanya yang lucu?” kepo Rayna.
“Kalau ditolak itu berarti kita harus usaha lagi,” jawab Derren.
“Kan udah ditolak lagi,” kata Rayna.
“Dek, pernah denger cerita perjuangan sesungguhnya gak?” tanya Derren. Rayna menggelengkan kepala.
“Perjuangan yang sesungguhnya itu, mereka yang mau terus berusaha sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan,” jawab Derren. “Kaya kakak, kakak lagi berusaha biar kamu mau ngasih nomor telepon kamu. Kata kamu, kakak ketua Osis makanya kamu gak mau ngasih nomor kamu, sekarang kita di luar, dan posisi kakak bukan sebagai ketua Osis. Melainkan sama kaya kamu cuma manusia biasa tanpa jabatan berarti,” jawab Derren lagi.
“Emang buat apa nomor aku?” tanya Rayna. Ya memang apa pentingnya nomor Rayna buat Derren. Sampai Derren senekad itu meminta kepadanya.
“PDKT.”
#cuap-cuap
author
Demi
apa? Kok nulis cerita ini aku geregetan ya? Gimana gitu?
Hehehe
Tunggu
visualnya Rayna ya?
Jangan
lupa vote dan coment juga. Akan aku usahakan ccpet up lagi. See you
Love
you all
Salam
Eka_Bie

No comments:
Post a Comment