Waktu berjalan dengan begitu cepat, memaksa Rayna harus bergegas dan berangkat ke sekolah. Libur dua hari memang kurang memuaskan, ditambah lagi hari minggu Rayna kedatangan tamu bulanan yang membuat dirinya harus tersiksa.
Hari senin, hari yang menyebalkan bagi Rayna. Bertemu dengan rutinitas mingguan yaitu menaikkan sang saka merah putih, berdiri di bawah tiang bendera, dan mendengarkan amanat yang seharusnya tidak perlu didengarkan. Karena sudah pasti amanat minggu lalu dan minggu ini sama saja isinya. Apalagi nama rutinitas itu kalau bukan Upacara Bendera. Ya, hal yang paling dibenci seluruh siswa SD, SMP, maupun SMA. Salah satunya Rayna, Rayna juga malas jika harus mengikuti serangkaian kegiatan itu. Apalagi hari ini adalah hari kedua Rayna datang bulan, dan rasanya sangat menyiksa dirinya. Satu lagi, bertemu dengan para OSISWAN dan OSISWATI yang cerewetnya minta ampun. Ya, Rayna masih ingat saat-saat MOS kemarin, saat dirinya kena hukuman, dan saat dirinya kena sanksi. Sungguh OSIS yang menyebalkan.
MOS saja baru berlalu, sekarang sudah harus menaikkan bendera. Rasanya sudah sangat malas melakukan kegiatan upacara seperti itu. Karena waktu MOS kemarin juga sudah terlalu banyak melakukan apel. Mulai apel pagi, apel siang, dan apel sore. Ahh membosankan sekali. Bagi Rayna, hal-hal yang memusingkan lebih baik dihilangkan saja. Jangan sampai semua orang menjadi ribet ngurusinnya. Rayna adalah tipe orang yang tidak suka ribet. Dia lebih suka semuanya dijalani dengan santai. Kalau sudah berusaha dan tidak bisa melakukannya, ya udah ditaro aja. Mau diapa-apain juga gak bakal bisa. Itulah prinsip Rayna, yang penting usaha saja.
Rayna selalu merutuki takdir, kenapa hari senin ke hari minggu itu lamanya satu abad. Sedangkan hari minggu ke hari senin itu kaya Cuma satu detik. Dibuat tidur aja udah langsung pagi aja.
Rayna juga sedikit kesal dengan peraturan pemerintah sekarang, yang katanya menggunakan kurtilas atau kurikulum 2013, mengharuskan siswanya aktif karena guru hanya sebagai fasilitator. Apa gunanya sekolah coba? Kalau apa-apa gurunya Cuma ngasih tugas, suruh nyari di google, terus dikumpulkan, presentasi pakai power point, tanya jawab, udah gitu aja. Rasanya sekolah itu jadi gak ada gunanya menurut Rayna. Rayna juga bisa belajar seperti itu tanpa harus ada guru.
Tapi? Benar yang dikatakan pepatah. Guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Kalau soal itu seorang Rayna tidak bisa membantah, karena kakak Rayna yang bernama Febry juga seorang guru. Katanya susah, karena harus menghadapi puluhan manusia yang memiliki berbagai jenis karakter. Bayarannya juga tidak seberapa. Bagi PNS mungkin akan terasa banyak, tapi bagi Febry kakak Rayna yang hanya sebagai Guru Harian atau Guru Tidak Tetap hanya menenrima upah 300.000 setiap bulannya. Sungguh miris.
“Rayna!” teriak wanita paruh baya yang namanya Fara. Siapa lagi wanita itu kalau bukan ibu Rayna. Ibu yang sudah menanggung bebannya sendiri setelah Ayah rayna meninggal.
“Iya, Bu.” Rayna segera keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan. Rayna anak dari keluarga sederhana, setiap hari Ibunya selalu memberikan nasehat kalau Rayna tidak boleh seperti Fara. Rayna harus menjadi wanita sukses nantinya. Rayna juga sadar diri, karena bagi Rayna, kebahagiaan Fara adalah kebahagiaan dirinya. Maka dari itu, apapun yang dikatakan Ibunya, Rayna akan mendengarkan. Karena itu adalah jalan terbaik. Meskipun kadang yang didengarkan masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
“Ya sudah hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut pakai sepedanya. Terus, ini bekel makannya, terus ini jamu kunyit asamnya,” kata Fara sambil menyiapkan semuanya. Rayna lalu memasukkan semua yang disiapkan Fara ke dalam tas. Tas rayna sudah hampir penuh, untung masih ada keranjang sepeda yang dapat membantunya. Padahaal jamu kunyit asam itu tidak ada pengaruhnya bagi Rayna, karena perut Rayna masih sama saja sakit, tapi? Apa boleh buat jamu itu dibuat Fara, dan Rayna tahu doa Ibu itu selalu manjur dan diijabah.
“Ya udah, Rayna berangkat dulu ya, Bu. Assalamu’alaikum.” Rayna mencium punggung tangan Fara lalu bergegas pergi.
“Wa’alaikumsallam. Hati-hati ya!” teriak Fara. Rayna hanya mengangkat jempolnya dan menggayuh sepedanya dengan cepat. Membutuhkan waktu 20 menit untuk rayna naik sepeda. Fara pernah bertanya, apa Rayna membutuhkan motor? Kalau Rayna membutuhkan motor, Fara bisa mengkreditkannya. Apalagi besok Rayna mulai pulang sore.
Rayna menolaknya secara halus, Bagi Rayna, menaiki sepeda juga menyenangkan. Dia bisa menikmati udara pagi dengan leluasa. SMA Taruna Wijaya, adalah SMA yang dipilihkan Fara untuk Rayna. Rasanya aneh bagi Rayna, kenapa Fara memilihkan Rayna sekolah seperti ini. Rayna menyukai sekolah teknik, tapi Fara tidak mengijinkan Rayna masuk sekolah teknik. Sekolah teknik itu isinya kebanyakan cowok, dan Fara tidak menyukai itu. Mau tidak mau Rayna harus nurut aja. Karena mungkin ini adalah SMA terbaik pilihan Fara. Rayna masuk ke dalam jurusan IPS karena Rayna tidak suka berurusan dengan fisika dan kimia, untuk matermatika okelah itu mapel kesukaan rayna. Tapi, untuk fisika dan kimia membayangkan saja rayna sudah pusing.
Kalau jurusan Bahasa, Rayna bukan tipe orang yang suka bicara dan banyak bicara. Rayna suka bicara, tergantung sama orangnya. Kalau orangnya asik, mungkin rayna akan cerewet. Tapi, kalau orang yang diajak bicara pendiam, rayna juga ikut diam.
Itulah alasan rayna masuk ke IPS, tidak ada pilihan lain. Hanya itu sekarang harapan dia.
“Priiitttttt....” suara peluit sudah mulai terdengar, pasti semua osis sudah mulai menggiring semua siswa untuk menuju lapangan. Rayna segera berlari menuju kelasnya untuk meletakkan tas yang super beratnya.
“Dek, mau kemana?” tanya salah satu osis.
“Mau naro tas, Kak.”
“Ya udah cepet.” Rayna mengangguk dan segera mempercepat larinya.
“Auuu...” rayna menabrak seseorang saat ingin mengambil topi di tas.
“Maaf-maaf gak sengaja,” kata Rayna sambil menunduk.
“Gak papa,” kata orang itu sambil melihat ke arah name tag Rayna.
“Rayna Ramadhani? Itu nama kamu?” tanya orang itu.
“I... iya.”
“Derren!!! Cepet. Elo tugas naikin bendera kan?” kata seseorang yang Rayna tahu itu adalah Kak Anton yang sering buat aturan membingungkan waktu mos.
“Iya, Ton! Pake topi aku aja, aku ada dua.” Rayna menerima uluran topi osisi yang diberikan derren.
“Cepet ke lapangan, sebelum ada guru BK lihat,” kata Derren mengingatkan.
“Kakak duluan aja. Aku mau naro tas dulu, terima kasih topinya,” kata Rayna.
“Sama-sama.”
Rayna lalu meletakkan tasnya di dalam kelas dan berlari ke lapangan untuk upacara bendera. Ribet sekali mau upacara. Pake ketinggal segala lagi topi rayna. Pasti tadi lupa gak dimasukkan ke dalam tas. Untung ada Derren yang mau meminjamkannya topi.
Rayna masuk ke dalam barisan paling belakang. Rayna masuk dalam kategori pendek di sekolah itu. Tingginya hanya 148 cm. Aturan barisan di SMA Taruna Wijaya yaitu dari yang paling tinggi ke paling pendek, dan rayna masuk ke kategori barisan paling pendek karena ukuran tubuhnya memang mungil.
Susunan acara demi susunan acara telah telewati, kini tinggal acara pengibaran bendera merah putih.
‘Kak Derren,’ batin Rayna sambil tersenyum.
Derren memberikan
aba-aba yang sesuai. Karena derren bagian tengah dan yang membawa sang saka
merah putih.
Maju satu langkah grak!
Luruskan!
Lurus!
Langkah tegak maju
jalan!
Sampai pada aba-aba Bendera Siap! Semua anak memberikan tanda hormat kepada sang saka merah putih.
Bagian paduan suara mulai menyakikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan nada Sopran, Mezosopran, Alto, Tenor, Bass, dan Bariton. Semua menggema dan menyanyikan lagu Indonesia Raya sesuai dengan Dirijen dan alunan piano yang dibawakan Bu Hanna.
Indonesia Raya
merdeka-merdeka
Tanahku negeriku yang
kucinta
Indonesia raya
merdeka-merdeka
Hiduplah... indonesia raya....
“Bruk!!” tiba-tiba saja Rayna pingsan.
“Ray....” Jasmin yang ada di samping kiri Rayna terkejut.
Tim PMR yang bertugas pun segera bergegas membawa Rayna menuju uks.
“Ray...” Jasmin menggoyang-goyangkan tubuh Rayna.
“Kamu kembali aja ke lapangan, dia biar kita yang urus,” kata Silvy petugas PMR.
“Rayna gak apa-apa kan, kak?” tanya Jasmin.
“Gak apa-apa kok, kamu tenang aja.” Jasmin mengangguk lalu kembali ke lapagan untuk mengakhiri upacara.
Bau minyak kayu putih dan balsem lang. Bau yang adanya hanya di uks. Rayna hapal bau itu, karena dulu saat Rayna pingsan ayahnya juga memberi Rayna bau yang sama Kayu Putih dan Balsem Lang. Rayna tersadar dari pingsannya. Apa yang terjadi? Pasti ini gara-gara sakit perut yang sedang menyerang Rayna. Datang bulan memang menyeballkan karena datang tanpa permisi dan membawa sakit yang amat sangat.
Selesai upacara, Derren yang mendengar berita bahwa Rayna jatuh pingsan langsung berlari menuju uks. Pasti terjadi sesuatu dengan Rayna.
“Gimana keadaannya, Sil?” tanya Derren yang langsung mengusap kepala Rayna dan membuat Rayna terkejut.
Silvy tersenyum simpul. “Tidak apa-apa. Tensinya turun, mungkin efek kamu lagi datang bulan kali ya?” tanya Silvy.
“Iya kak hari kedua,” jawab Rayna.
“Sakit?” rayna menganggukkan kepala jujur.
“Itu akibatnya,” kata Silvy.
“Bener kamu gak apa-apa?” tanya Derren.
“Gak apa-apa kok Kak Derren. Aku baik-baik aja. Topi kak derren kotor nanti biar aku cuci dulu, terima kasih ya?” kata Rayna.
“Itu Cuma topi kok. Tenang aja.” Derren tersenyum dengan wajah yang berseri. Dalam hati dia bahagia, karena orang yang selama ini dia cari ada di depannya. Namun, kenapa harus dengan keadaan seperti ini? Itu yang membuat derren sedikit sedih.
“Aku keluar dulu. Der, nanti suruh dia minum teh angetnya biar agak mendingan,” kata Silvy. Derren hanya mengangguk paham.
“Aku udah gak apa-apa kok kak, jadi kakak bisa kembali ke kelas kak derren,” kata rayna. Derren tau, rayna mengusirnya secara halus. Rayna juga kurang nyaman dengan kondisi ini. Rayna tidak mengetahui apapun tentang derren, dia bertemu dengan derren saja baru tadi pagi. Belu pernah dia bertemu sebelumnya dengan derren.
“Rayna!!!” jasmin berteriak sangat histeris melihat kondisi Rayna.
“Heh, Ray. Elo kenapa si? Tumben amat bisa pingsan?” tanya Bagas.
“Rayna juga manusia kali,” kata Jasmin.
“Manusia setengah cowok cetengah cewek kali?” ucap si semprul Nando.
“Berisik!” ketus Rayna. Rayna menyesali kenapa teman-temannya ini harus ke sini sekarang. Apa mereka gak tau apa kalau ada derren. Ada osisi lain di sini.
“Ray, elo enak ya? Gak pake gesper gak kena hukum. Lha gue, sepatu baru gue yang merek Marbo dari kulit unta di sita sama osis osis kampret itu gara-gara bawahnya ada warna putih. Elo pura-pura pingsan ya? Biar gak kena hukum,” oceh Nando tanpa basa-basi.
“Sssstttt....” jasmin memberikan isyarat supaya Nando diam dan tidak banyak tingkah. Ada osis di dalam ruangan ini. Memangnya Nando tidak tahu kalau Derren itu osis.
Derren tersenyum melihat kekocakan Rayna dan teman-temannya ini. Bahkan wajah Rayna sempat memerah karena menahan malu. Kebayang kan malunya kaya gimana.
“Kamu gak apa-apa beneran?” tanay Derren lagi.
“Gak apa-apa kok kak,” jawab Rayna.
“Ya sudah, aku ke kelas dulu. Tehnya jangan lupa diminum.”
“Terima kasih, kak.” Derren hanya mengangguk dan tersenyum tulus. Baru kali ini derren bisa tersenyum kembali. Biasanya dia akan selalu cuek dengan keadaan sekitar. Kepekaan Derren bisa dihitung antara 0-10, kepekaan derren hanya 0,001 gak genap 1. Tapi sekarang? Semuanya kembali dari awal, Derren akan tetap menjadi derren yang lama. Derren yang dulu.
“Kalau mau sepatunya gak kena sita, taati peraturan. Peraturan itu untu diaati bukan di ingkari. Jalani sesuai aturan, dan jangan buat jalan sendiri,” kata Derren sambil menepuk bahu Nando lalu pergi berlalu melewati jasmin dan Bagas begitu saja.
“Itu siapa si? Sok-sokan banget jadi orang,” kesal Nando. “Siapa sih tuh anak?” tanya Nando.
“Ketua osisi Oon, ketua Osis!” kata Jasmin menepuk jidatnya.
"Ketua Osis? Bukan Kak Anton?” kata Nando kaget.
“Makanya kemarin kalau ada apa-apa dengerin. Kak derren kemarin masih ada LCC, yang gantiin Kak Anton si wakil ketua,” jelas Jasmin.
“Kok gue gak tahu?”
“Makannya jangan molor mulu!” kesal Jasmin.
Sejujurnya Rayna juga baru tahu kalau Derren adalah Ketos di SMA Taruna Wijaya. Saking gak minatnya Rayna sekolah di sini, berita papun Rayna acuhkan. Payah!
“Mati! Sepatu gue ga
bakal balik lagi.”
****^^^^****
#cuap-cuap Author
Cerita masih akan terus
berlanjut. Aku nulis karena aku hobi. Yuk voment. Cerita masih akan berlanjut
kok. Akan diusahanan update 2 hari sekali. Maaf kalau masih ada typo. Maaf
banget kalau ini ceritanya agak gimana gitu. Karena ini bukan cerita bad boy
ataupun good boy, bad girl ataupun good girl. Ini hanya ceeita yang muncul di
kepala aku dan aku tulis begitu saja.
Aku minta doanya semoga
akan lebih baik menuju ke depannya. Aamiin.
Jangan lupa follow ig
aku @eka.bie
Kalian bisa buat Quotes
dari cerita DerRay dan nanti aku akan repost quotes kalian. Tag aja aku.
Love you all
Salam
Ekamarlianasaputri

No comments:
Post a Comment