About Me

My photo
Nama saya Eka Marliana S, sering dipanggil Eka, hobi saya menulis. Moto: Menyerah adalah kekalahan yang kita buat sendiri

DerRay ~ 3

Aneh, kita baru bertenu kemarin. Tetapi kamu, kamu seakan sudah mengenal diriku sejak lama. Jangan sembunyi, aku hanya ingin tahu siapa dirimu itu.

~ Rayna Ramadhani

 

“PDKT.”

“Ha???” kejut Rayna. Rayna langsung salah tingkah di depan Derren. Sebenarnya mau Derren apaan si.

“Boleh?” kata Derrren.

“Pulang yuk. Udah malam?” Rayna mencoba menghentikan drama malam ini. Pikiran Rayna sudah kacau.

“Baru sampai kan? Baru jam 8 juga,” kata Derren. “Kamu udah makan?” tanyanya.

“Udah. Pulang aja, nanti aku kasih nomor aku kalau kakak nganterin aku pulang ke rumah,” kata Rayna.

“Janji?” kata Derren sambil mengangkat jari kelingkingnya.

“Iya.”

“Janji dulu.”

“Iya, janji.” Rayna mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Derren. Derren tersenyum, akhirnya apa yang dia inginkan sudah tercapai.

“Ayo.” Lalu Derren dan Rayna kembali ke rumah Rayna.

25 menit untuk sampai ke rumah Rayna. Derren masih tersenyum ke Rayna, apa Rayna lupa kalau dirinya berjanji akan memberikan nomornya?

“Makasih udah mau diajak keluar,” kata Derren.

“Sama-sama.” Padahal Rayna terpaksa karena Fara sudah mengijinkannya untuk pergi.

“Sekarang, tepati janji kamu,” kata Derren sambil mengeluarkan HP nya.

Rayna lalu mengambil ponsel milik Derren dan mencatat nomornya di sana.

“Sudah.” Rayna mengembalikan HP milik Derren.

“Kalau aku chat balas ya? Ya udah aku pulang, salam buat ibu. Terima kasih. Assalamualaikum,” kata Derren sangat senang. Rayna yang melihat Derren sangat bahagia hanya bisa menatap bingung. Memang bisa ya, seseorang sangat bahagia saat diberi nomor telepon?

Rayna geleng-geleng lalu masuk ke dalam rumah.

“Assalamualaikum,” kata Rayna.

“Wa’alaikumsallam. Ehh udah pulang, Derren dimana?” tanya Fara.

“Udah pamit barusan. Ibu dapat salam dari Kak Derren,” kata Rayna.

“Wa’alaikumsallam.

Rayna lalu masuk ke dalam kamar, merebahkan tubuhnya yang sebenarnya tidak lelah. Bahkan perutnya tidak berontak untuk meminta makan.

Drrtt.... Drrttt..... ponsel Rayna bergetar. Rayna membuka ponselnya dan membaca chat yang masuk.

Hay...

Terima kasih ya, selamat istirahat. Jangan lupa makan, tadi niatnya aku mau ngajak makan, tapi kata kamu, kamu udah makan. Gak jadi deh. Hehehe

Derren Wijaya

“Kak Derren.” Rayna hanya membacanya tanpa membalas pesan dari Derren. Lagi-lagi Rayna teringat kata-kata Derren.

“PDKT.”

Alarm berbunyi sangat keras, membangunkan tidur tidak nyenyak Rayna. Ya, setelah Rayna mendengar kata PDKT dari mulut Derren, Rayna tidak bisa tidur.

Rayna menghela napas kesal, hidupnya menjadi berubah saat seorang Derren datang di dalam kehidupannya. Jujur, baru kali ini Rayna salah tingkah. Bagaimana kalau nanti dia bertemu dengan Derren waktu di sekolahan? Apa yang akan Rayna lakukan? Rayna pasti kehabisan gaya. Sudah pasti Rayna mati kutu. Rayna dengan malas beranjak untuk mandi dan berangkat sekolah. Tidak semangat kata itu yang pantas untuk Rayna.

Sesampai di sekolah wajah Rayna lesu karena kurang tidur. Do’a Rayna hari ini adalah tidak ingin bertemu Derren.

“Kenapa lo, lesu amat?” tanya Jasmin.

“Ngantuk.” Rayna lalu duduk dan menopang kepalanya dengan tangan.

“Pagi-pagi juga.”

“Biarin.” Jasmin geleng-geleng kepala tanda prihatin dengan keadaan Rayna.

“Begadang ngapain si?” kepo Jasmin.

“Nungguin Catty lahiran,” jawab Rayna asal. Catty adalah nama kucing kesayangan Rayna.

“Gila, lo!”

Drttt.... Drtttt....

Rayna yang merasa HP nya bergetar lalu membukanya. Mata Rayna melotot membaca pesan dari Derren. Kenapa jantung Rayna mendadak berdetak sangat kencang ya? Baru saja dia meminta supaya tidak bertemu dengan Derren, tapi malah sekarang Rayna sudah mendapat chat dari Derren.

Kak Derren

Dek, boleh main ke rumah gak nanti?

 

“Cie... dapat chat WA dari siapa, Neng?” goda Nando yang langsung ngintip ke hp Rayna.

Rayna segera menutup ponselnya dan menyembunyikan dari teman-temannya ini.

“Kepo banget deh,” ucap Rayna.

“Kak siapa?” tanya Nando penasaran.

“Kak apaan?” Rayna mulai gugup menjawab pertanyaan Nando.

“Itu tadi sempet gue lihat awalan namanya kak,” jelas Nando.

“Kak Derren!” kata Jasmmin dan Bagas bareng.

Rayna melototkan matanya, apa semudah itu menebak sesuatu. Apa Rayna yang tidak bisa menyembunyikan sesuatu?

“Bu... bukan lah. Kak Febry itu, kakak aku yang di Jogja,” kata Rayna sambil berbohong.

“Kak Febry atau kak Febry,” ledek Jasmin.

“Apaan si, Jas. Kak Febry itu tadi, nanyain kabar Ibu aku gimana? Kan udah lama juga Kak Febry gak pulang?” Rayna mencoba mengatur semuanya. Tidak mungkin juga kalau dia mengatakan bahwa barusan yang WA adalah Derren, bisa heboh satu kelas nanti. Apalagi mulut Nando itu gak bisa dijaga.

“Kak Derren juga gak apa-apa?” ledek Jasmin sambil mencolek lengan Rayna.

“Apaan si, Jas.” Rayna pura-pura saja membuka buku pelajarannya. Mengalihkan semua perhatian teman-temannya ini. Rayna memilih untuk diam, karena Rayna takut beritanya akan membuat Rayna pusing sendiri. Apa jadinya kalau semua orang tahu seorang Rayna dekat dengan Derren?

“Pengumuman-pengumunan ada Osis yang mau masuk, jadi harap tenang!” kata ketua kelas yang bernama Bimo.

Rayna yang mendengar kata Osis mendadak langsung kaget, jantungnya kembali berdetak 10 kali lebih cepat. Gak mungkin kan kalau Rayna punya penyakit jantung?

Rayna yang melihat seorang osis masuk, langsung mengalihkan pandangannya. Buku yang ada di depannya kini adalah fokus utama Rayna.

“Ray... Ray... Kak Derren,” bisik Jasmin.

“Ehemmm!!!” Nando berdehem sangat keras. Rayna menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya, kenapa dunia ini jadi terasa panas ketika seorang Derren muncul. Posisi Rayna menjadi sangat gusar, seperti kepiting yang kepanasan. Doa Rayna benar-benar tidak dikabulkan Allah. Derren sekarang ada tepat di depannya. Salah ada di depan semua siswa di kelas IPS 2.

“Assalamu’alaikum warrahmatullohi wabarokatuh,” kata Derren.

“Wa’alaikumsallam warrahmatullohiwabarokatuh,” jawab siswa siswi.

Derren mengedarkan pandangannya untuk melihat Rayna sejenak, Derren tersenyum karena Rayna hanya diam dan terfokus dengan buku novel di depannya. Bahkan, chat dari Derren pun hanya di read oleh Rayna. Apa Derren harus mengatakan sejujurnya kepada Rayna, kalau dia merindukan Rayna?

“Selamat pagi, di sini saya perwakilan dari osis ingin menyampaikan. Bahwa setiap siswa atau siswi diwajibkan mengikuti ekstrakulikuler. Kegunaan ekstrakulikuler ini untuk mengembangkan bakat kalian, dan meng-refreshkan kembali otak kalian setelah pusing memikirkan pembelajaran. Jadi, saya harap kalian bisa mengerti pentingnya ekstra ini. Ingat! Ekstra ini wajib untuk semuanya, tidak terkecuali. Minimal satu ekstra, dan ambil ekstra yang menurut kalian bisa kalian lakukan,” jelas Derren.

“Keren ya Kak Derren,” puji Jasmin. Rayna akui memang Derren ini perfect. Seorang OSIS selalu mengikuti olimpiade, dan... pokoknya selalu mendapatkan nilai plus.

“Tolong yang sedang membaca buku, fokusnya pindah ke saya ya?” kata Derren sambil menunjuk k arah Rayna.

Deg!!! Jantung Rayna serasa berhenti sejenak. Satu-satunya siswa yang sedang membaca buku adalah Rayna. Rayna menutup bukunya dan melihat ke arah Derren. Derren tersenyum melihat Rayna yang melihat ke arahnya.

“Kenapa harus aku si!” batin Rayna sedikit kesal.

Banyak siswa yang berprestasi di sekolah ini, banyak siswa cantik di sekolah ini, banyak fans Derren di sekolah ini, yang menjadi pertanyaan Rayna adalah kenapa harus dirinya? Kenapa harus Rayna yang menjadi pusat perhatian seperti ini? Ya, seorang Rayna paling benci jika harus menjadi pusat perhatian. Dirinya yang bersifat introvert sangat sulit bergaul, tapi jangan salah, jika sudah mengenal Rayna, sisi baik Rayna akan muncul dengan sendirinya. Sangat ceria!

“Terima kasih. Baik, jadi intinya kalian wajib mengikuti ekstra ya? Ada yang ingin ditanyakan?” kata Derren.

“Ada, Kak.” Jasmin mengangkat tangannya.

“Mau tanya apa?” kata Rayna. Perasaan Rayna tidak enak kalau Jasmin si cewek blak-blakan mengangkat tangan.

“Rahasia!” cetus Jasmin.

“Iya silakan, Jasmin.”

“Kak Derren tahu nama gue,” histeris Jasmin.

Rayna bergidik ngeri melihat ke alayan Jasmin. Biasa aja menurut Rayna.

“Ehhmmm... begini, kak. Udah punya pacar belum?” tanya Jasmin.

Rayna menahan tawanya, jujur pertanyaan Jasmin itu pertanyaan paling bodoh. Rayna penasaran juga dengan jawaban Derren, lalu Rayna menatap ke arah Derren, teman-teman Rayna juga tertawa mendengar pertanyaan Jasmin.

“Huuuu bilang aja  mau gebet Kak Derren, lo!” kata Nando sambil melempar tutup bolpoin.

“Sirik aja, lo!”

“Sudah-sudah. Apa perlu saya jawab?” kata Derren.

“Jawab dong? Empat kali empat enam belas. Sempat tidak sempat harus dibalas,” kata Jasmin alay.

“Dasar Mimin!!! Jangan samain kaya surat!” kata Bagas.

“Sudah-sudah.” Derren menahan tawa melihat kegilaan teman-teman Rayna ini. Rayna juga tersenyum dan senyumannya ini adalah senyuman yang Derren temui lagi setelah tujuh tahun lamanya.

“Doakan saja ya? Sebentar lagi Insya Allah,” kata Derren.

“Yahhh... sabar ya, Ray. Elo belum beruntung!” kata Jasmin sambil menepuk bahu Rayna.

“Kok aku?” kata Rayna tidak paham.

“Sabar, Ray. Masih ada gue kok!” kata Nando juga.

“Apaan si!”

“Ray, gue siap gantiin posisi Kak Derren kok kalo elo gak bisa dapetin Kak Derren,” kata Bagas ikut-ikutan.

“Apaan si! Gak usah pada gila deh!” kesal Rayna.

Seketika wajah Rayna memerah, teman-temannya memang ingin membuat Rayna mati gaya di depan Derren. Sumpah, demi apapun Rayna ingin sembunyi. Sembunyikan Rayna! Semalam Derren sudah berhasil membuat Rayna baper dan sekarang temannya ingin menambah beban Rayna. Rayna ingin pulang!!!

Rayna tidak berani menatap Derren yang sedari tadi menahan tawanya. Derren tahu Rayna sedang malu. Wajah Rayna sangat menggemaskan kalau sedang seperti ini. Derren ingin mencubit pipinya yang chubby.

“Ya sudah, kalau begitu sekian dari saya, kurang lebihnya saya mohon maaf. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” kata Derren.

“Wa’alaikumsallam warahmatullahiwabarokatuh,” jawab siswa siswi. Derren lalu keluar sambil senyum-senyum.

“Ehh kalian bertiga, bisa gak si! Mulut kalian itu dijaga! Malu-maluin gue tau gak!” bentak Rayna.

“Ray, jangan marah dong. Gue takut,” kata Jasmin. Ya, seorang Rayna jikas udah marah sangat menakutkan. “Maaf deh.”

“Iya si, Ray. Kita Cuma becanda kok. Siapa tahu Kak Derren emang jodoh, lo.”

“Diem! Gak usah bahas-bahas dia lagi,” kata Rayna.

“Ray.....”

“Diem!!!”

“Apaan si, Ray. Gue Cuma mau nanya elo mau ikut ekstra apa?” tanya Bagas kesal.

Rayna meringis mendengar omelan Bagas, Rayna kira tadi Bagas ingin bicara tentang Derren. Entah mengapa telinga Rayna sensitif saat mendengar nama Derren.

“Volly mungkin,” kata Rayna.

“Elo kan pendek, elo bisa emang? Apa mau jadi libero,” ejek Bagas.

“Aku gini-gini dulu blocker ya, waktu SMP,” kata Rayna tidak terima.

“Iyain aja, moodnya lagi jelak,” bisik Nando.

“Ohh oke-oke,” kata Bagas nurut. “Ya udah gue dukung lo main Volly deh.”

Rayna mencibir Bagas yang mudah banget kena kompor Nando. Kenapa dulu Rayna kenal sama mereka bertiga ini. Dunia Rayna serasa semakin panas saja.

“Elo mau ikut apa?” tanya Nando ke Jasmin.

“Gue? Gue mau ikut ekstra cheerleader,” kata Jasmin sambil senyum-senyum.

“Ha??? Ekstra apaan tuh?” tanya Bagas.

“Ihhh yang lalala yeyey lalala yeyeye gitu!!! Masa gak tau si! Yang sambil bawa rumbai-rumbai gitu?” jelas Jasmin.

“Ohhh yang gini ini. Go... go... gooo... gitu?” kata Nando sambil mempraktekkannya.

“Gak kaya gitu juga kelles.”

“Emang kamu bisa?” tanya Rayna.

“Apa si yang gak Jasmin bisa? Jasmin, semuanya pasti bisa. Kecuali bahasa inggris,” sombong Jasmin.

“Eeek, lo. Emang kenapa milih kaya gitu?” tanya Bagas.

“Kepo amat lo, Gas LPG. Ya gue mau nyemangatin Kak Derren kalau dia lagi olimpiade gituh,” jelas Jasmin.

“Jijik!” Nando dan Bagas merasa geli juga dengan ulah Jasmin. Segitunya.

“Nah, Ray. Jangan cemburu kalo Kak Derren sukanya sama gue.”

Rayna geleng-geleng kepala melihat Jasmin yang sudah sangat gila. Untung temen, kalau bukan udah Rayna tendang Jasmin.

Drtttt.... Drrrttt.... ponsel Rayna berdering.

Kak Derren

Wajah kamu lucu banget si?

Jadi gemes aku lihatnya.

Rayna yang membaca pesan dari Derren entah mengapa tersenyum. Kenapa Rayna mendadak tersenyum ya?

Kak Derren

Empat kali empat enam belas

Sempat tidak sempat harus dibalas

“Elo kenapa ketawa, Ray?” kata Jasmin yang melihat perubahan kepada Rayna. Tadi, Rayna marah-marah, sekarang Rayna ketawa-ketiwi gak jelas.

“Hooh, Ray. Elo gak lagi kesambet kan?” kata  Nando.

“Enggak lah,” jawab Rayna.

“Hiii Rayna aneh.” Bagas bergidik ngeri melihat Rayna yang berubah drastis.

 

 

Pukul 15.00 waktunya untuk pulang. Setelah seharian dikurung di dalam kelas membuat Rayna capek. Padahal cuma duduk, tapi bisa membuat Rayna capek. Capek mendengarkan guru yang sedang bercerita. Bayangkan saja 45x2 jam pelajaran, semua guru hanya bercerita. Hanya guru matematika tadi yang memberikan sedikit materi, dan membuat Rayna tidak mengantuk. Sisanya, guru 4 bercerita. Katanya masa perkenalan untuk minggu ini.

“Loh payung aku kemana ya?” kata Rayna sambil mencari payung di keranjang sepedanya.

“Tadi pagi udah aku taro di keranjang kok?” kata Rayna sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kenapa, Ray?” tanya Jasmin.

“Payung aku gak ada,” jawab Rayna.

“Yang warna ungu itu?” Rayna menganggukkan kepala tanda benar.

“Enggak elo bawa mungkin.”

“Enggak munggin, Jas. Tadi udah aku taro di sini kok,” kata Rayna meyakinkan Jasmin.

“Dimana ya?” Rayna masih bingung kemana payungnya hilang.

“Kamu cari ini?” tiba-tiba datang seseorang yang mengulurkan payung ungu.

“Payung ku!” teriak Rayna sambil memeluk payungnya.

“Terima....” Rayna tidak melanjutkan ucapannya saat tahu siapa orang yang mengulurkan payungnya.

“Kak Derren,” kata Rayna pelan.

“Hay....” sapa Derren.

“Ray pulang duluan ya, angkot udah datang. Dahhh...” Jasmin langsung mengambil langkah seribu dan kabur dari tempat Rayna.

“Jas, katanya mau boncengan!” teriak Rayna. Jasmin pura-pura tuli saat dipanggil Rayna. Sekarang, Rayna sudah mati kutu di depan Derren. Bingung mau ngapain di depan Derren. Stok rasa malu Rayna sudah menipis.

“Aku mau pulang dulu kak, terima kasih ya payungnya,” kata Rayna sambil mengambil sepedanya.

“Tunggu!” Derren mencegah Rayna  untuk pulang.

“Kamu gak ingat siapa aku?” tanya Derren.

Rayna lalu menatap lekat wajah Derren. Demi apapun, Rayna tidak mengenali Derren kecuali sebagai ketua OSIS di sekolahannya.

“Kamu gak ingat siapa aku?” tanya Derren lagi.

“Tujuh tahun lalu, payung ungu, hujan, dan ayah kamu,” kata Derren mencoba memberikan isyarat kepada Rayna.

Mulut Rayna kelu untuk bicara, kenangan tujuh tahun di makam ayahnya kembali terlintas. Sosok seorang anak laki-laki yang memberikannya kekuatan lagi, sosok anak lelaki yang berhasil membuat Rayna sadar bahwa ada orang penting yang harus dia jaga. Apa anak lelaki itu Derren?

“Kak Derren?” kata Rayna menahan air mata yang ingin keluar.

“Siapa nama kamu?”

“Namaku Rayna. Rayna Ramadhani!”

Seketika Rayna tersadar, Derren memang mengenali dirinya. Rayna pernah memberitahu namanya kepada Derren saat Derren berteriak bertanya siapa nama Rayna. Bagaimana mungkin Rayna lupa?  Apa takdir kembali mempertemukan Derren dan Rayna?

“Kak Derren!!!” Rayna meletakkan sepedanya begitu saja di parkiran. Memeluk Derren yang selama ini selalu Rayna tunggu kehadirannya.

Derren membalas pelukan Rayna. Ada rasa lega, karena Rayna ternyata masih ingat kepada dirinya. Sudah lama Derren mencari Rayna, karena setelah kejadian itu Derren harus pindah ke Lampung dan baru satu tahun kemarin Derren kembali ke tempat kelahirannya. Derren sudah mencoba mencari Rayna, lewat FB, IG, dan medsos-medsos lainnya, tapi tetap saja zonk. Tidak ada nama Rayna. Adanya Ranya.

“Maafin aku, aku tidak kenal dengan kakak. Maafin Rayna, Kak?” kata Rayna sambil terisak.

“Udah sekarang pulang yuk. Kakak anter kamu,” kata Derren.

“Tapi motor kakak?”

“Gampang. Ayok.” Lalu Derren membawakan sepeda Rayna. Mereka berjalan berdampingan. Serasa indah memang melihat keduanya kembali seperti ini.

“Udah gak usah nangis,” kata Derren sambil menghapus air mata Rayna.

“Kaget aja, Kak. Gak nyangka bisa ketemu. Aku kira Kakak udah lupa sama aku,” kata Rayna .

“Kamu yang lupa sama kakak kan?”

“Enggak lupa kak, tapi udah beda aja sekarang.”

Nah sifat asli Rayna mulai muncul kan? Dia lebih enjoy sekarang. Bahkan, Rayna yang tadinya jaim di depan Derren sudah mulai agak terbuka juga. Seperti itulah Rayna, tertutup tetapi hanya pada orang tertentu.

“Pantas saja kakak selalu ganggu aku, kenapa gak bilang dari awal si?” tanya  Rayna.

“Ya karena kakak juga bingung, kakak harus memastikan dulu kamu Rayna yang kakak kenal bukan. Ternyata iya. Sewaktu Kakak ke rumah kamu, kakak melihat foto masa kecil kamu,” jelas Derren.

“Kakak curang!”

“Maaf ya?” kata Rayna sambil mengusap kepala Rayna. Rayna tersenyum, senyumnya kali ini adalah senyum bahagia. Doa yang selama ini Rayna minta, dikabulkan oleh Allah.

“Waktu itu, niat aku mau balikin payung kakak, tapi kata tetangga kakak, kakak udah pindah.”

“Iya, kakak harus ikut orang tua kakak ke Lampung. Terus balik lagi ke sini sekarang. Tapi rumah kakak juga jauh dari sini. Karena rumah yang dulu udah dijual. Jadinya, mau gak mau orang tua kakak harus beli rumah lagi, dan sekarang kita jauh deh,” kata Derren.

“Gak apa-apa. Bisa ketemu di sekolahan,” kata Rayna sambil tertawa.

Derren tertawa melihat keceriaan Rayna. Jika boleh meminta, tolong jauhkan lagi jarak ke rumah Rayna, karena Derren masih mau berjalan berdua bersama Rayna. Rasanya sangat asik.

Tanpa disadari waktu berjalan begitu cepat, Derren bahkan sampai tidak sadar, rumah Rayna sudah ada di depan. Ahh,, waktu memang tidak adil. Kenapa berjalan begitu cepat saat meminta untuk dilambatkan.

“Berarti sekarang bisa balas chat aku dong?” kata Derren.

Rayna tersenyum, sebenarnya Rayna ingin membalas chat dari Derren, tapi karena gengsi jadi Rayna urungkan.

“Oke,” kata Rayna sambil mengangkat ibu jarinya.

“Ya udah masuk. Jangan lupa belajar yang rajin, habis ini makan dulu. Jaga kesehatan ya?”

Rayna menganggukkan kepala tanda paham. “Kakak gak mau mampir?” tanya Rayna.

“Udah sore, Kakak pulang dulu. Dengerin kata Ibu ya?” kata Derren sambil mengusap kepala Rayna.

“Hati-hati kak,” kata Rayna.

Derren melambaikan tangannya tanda pamit. Derren harus kembali ke sekolah dengan jalan kaki, karena tadi motornya ditinggal. Demi mengantar Rayna, motor Derren ditinggal gitu aja. Tidak masalah, bisa berjalan dengan Rayna sudah membuat Derren bahagia. Lelahnya sudah terbayarkan.

“Aku bahagia bisa bertemu denganmu, Kak Derren.”

Hembusan angin mengisyaratkanku tentang sesuatu

Tentang semua yang pernah ku minta pada Mu

Tuhan....

Terima kasih, telah mendengar doaku

Telah mempertemukan diriku dan dia yang pernah ada di masa lalu

Sampaikan sejuta maafku

Karena banyak yang tak kutahu

Kalau dia adalah orang yang kutunggu

Sampaikan juga pesanku

Bahwa aku bahagia dengan pertemuan itu

~ Rayna Ramadhani

 

 

 

#Cuap-cuap author

Alhamdulliah ya, akhirnya Rayna tahu kalau Derren itu orang yang sama seperti tujuh tahun lalu, bagaimana menurut kalian feel nya, aku harap si dapet ya?

Gak tau kenapa suka aja buar cerita ini, imajinasiku jalan sendiri.

Yuk vote dan comment, aku akan sangat terima kasih bagi kalian yang mau baca, vote, dan comment.

 

Semoga aku semakin semangat ya?

 

Terima kasih....

 

Love You All

 

Salam

 

 

 

Eka_Bie

No comments:

Post a Comment