About Me

My photo
Nama saya Eka Marliana S, sering dipanggil Eka, hobi saya menulis. Moto: Menyerah adalah kekalahan yang kita buat sendiri

DerRay ~ 6

 Aku lebih memilih kena marah langsung, daripada aku harus melihatmu diam tanpa mau berbicara denganku

Derren Wijaya

 

 

Derren tidak tahu apa yang terjadi, kenapa Rayna akhir-akhir ini mendiamkannya. Sudah hampir satu minggu Rayna menghindar dari Derren, Derren sempat bertanya kepada Jasmin apa ada masalah dengan Rayna? jasmin hanya  menjawab mungkin Rayna memang sedang sibuk dengan tugas-tugasnya. Derren berpikir seperti itu, namun hatinya merasa ada yang mengganjal, Rayna tidak pernah seperti ini. Chat Derren pun Rayna abaikan.

“Woy bro, kenapa,  lo? Tumben amat galau kaya gitu. Bukannya harusnya elo seneng ya, kemarin di sana ketemu cewek-cewek cantik,” kata Bimo teman Derren.

“Diem.”

“Jangan jutek gitu, cepet tua baru tahu rasa.”

“Gue bingung. Kenapa cewek kalo lagi ngambek gak mau ngomong sama kita para cowok ya?” kata Derren.

“Elo punya cewek, Ren. Mustahil banget elo punya cewek.” Bimo terkejut dengan pengakuan Derren. Derren yang terkenal manusia berhati dingin suka dengan cewek. Berasa seperti mendengar berita kalau personil BTS pindah kewarganegaraan jadi WNI.

“Punyalah, emang elo jomblo kok abadi,” ejek Derren.

“Ehh, enak aja kalo ngomong. Emang siapa pacar, lo? Sifa?” tebak Bimo. Ya, Sifa siswi dari MIPA 2 yang terkenal cantik dan pintar. Sifa selalu menagatakan kalau pacarnya adalah Derren, tapi Derren tidak pernah mengakui kalau Sifa adalah pacarnya, karena Derren memang tidak menyukai Sifa. Apalagi sifat Sifa yang angkuh dan selalu menang sendiri. itu semakin membuat Derren tidak menyukai Sifa, meskipun begitu Sifa tetap menadi primadona SMA Taruna Wijaya.

“Sifa? Enggaklah mending gue jomblo seumur hidup daripada harus pacaran sama Sifa,” kata Derren sambil bergidik ngeri.

“Lha terus?”

“Ra.....” ucapan Derren terputus saat melihat Rayna lewat dari depan kelasnya. Derren langsung berdiri dan berlari menghampiri Rayna yang sudah sampai di lorong

“Hoy makhluk jomblo, elo belum selesai cerita!” teriak Bimo.

Derren tetap mengejar Rayna. Rayna berangkat kesiangan jadi mau tidak mau dia parkir di belakang dan akhirnya harus lewat kelas Derren. Demi apapun Rayna menyesali kenapa dia kesiangan, kenapa tadi dia gak naik angkot saja atau bahkan kenapa dia gak bolos sekalian aja.

Rayna mempercepat langkahnya, Rayna takut kalau Derren akan melihatnya dan....

“Ray!!!” panggil Derren.

Belum sempat rasa cemas rayna hilang Derren sudah memanggilnya. Kaki rayna spontan berhenti, entah kenapa rasanya untuk melangkah itu sangat sulit.

“Tunggu.” Derren mencekal lengan Rayna.

Jantung rayna sudah berdetak snagat keras. Apa karena ada Derren di depannya. Jujur rayna malu, entah mengapa Rayna malu. Malu karena marah dengan Derren. Karena Rayna sadar siapa dia siapa Derren.

“Kenapa, kak?” tanya Rayna sambil tersenyum.

“Jangan tersenyum, karena aku melihat kesedihan dimata kamu.”

Rayna menelan ludahnya. Kenapa mendadak Derren mengatakan itu ya? Apa karena emang kelihatan banget kalau Rayna bersedih.

“Sekarang kakak udah ketemu sama kamu, kamu harus jawab pertanyaan kakak. Kenapa kamu menghindar dari kakak?” tanya Derren pelan.

“Rayna gak menghinar kok kak, Rayna emang lagi sibuk aja. Maaf kalau kakak jadi merasa kaya gitu. Oh iya udah mau masuk kak, rayna harus ke kelas.” Rayna melewati Derren begitu saja.

Derren menghela napas pelan. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Rayna jadi seperti ini. Apa Derren melakukan kesalahan? Derren tidak bisa didiamkan oleh rayna seperti ini.

“Kamu kenapa, dek?” tanya Derren lesu. Derren berjalan lesu menuju kelasnya. Tidak mendapat hasil apapun menghentikan Rayna. derren juga tidak tahu lagi karena Rayna tidak pernah menceritakan apapun kepada Deerren. Sumpah, demi appaun Derren lebih memilih mengerjakan soal kimia 100 dari pada harus menebak hati Rayna.

Rayna duduk dengan lesu, memegang dadanya yang sudah bergemuruh.

“Ray!!!” kaget Nando.

“Bikin kaget aja si!” kesal Rayna.

“Elahhh, ngapa ngos-ngosan gitu, kaya abis lihat hantu aja. Why?” tanya Nando.

“Gaya lo, Nan pake bahasa inggris. Sok-sokan mau jadi bule.”

“Gue gini-gini fasih bahasa inggris tau, makanya Gas, elo kalo mau belajar bhasa inggris bisa belajar sama gue,” kata nando menyombongkan diri.

“Elahh nilai 46 aja elo banggain,” ejek Jasmin.

“Ehh min, kalo mau ngomong fakta mending nanti aja deh.” Nando melempar kacang atom ke wajah Jasmin.

“Jorok ih, Nando.”

“Bisa pada diem gak si! Aku lagi mikir nih.” Rayna memarahi ketiga temannya yang sudah membuat kepalanya semakin lebih pusying.

“Emang nanti ujian ya? Pake acara mikir segala?”

“Jangan samain otak aku sama otak kamu, Gas. Yang mikir kalo psa lagi ujian aja!” sindir Rayna.

“Ray, ucapan lo menusuk hati Abang. Sakitnya tuh di sini,” kata Bagas sambil memegang dadanya dengan tampang memelas.

“Jijik!” rayna hampir mutah melihat tampang Bagas yang sok tersakiti.

Rayna masih terpikir oleh Derren, apa Rayna tidak berlebihan ya? Marah dengan Derren? Bukannya harusnya dia gak marah? Kekanakan gak si kalo marah gara-gara gak dikasih kabar? Kekanakan ya? Kok Rayna jadi takut kaya gini ya?

“Ini guru pada kemana si? Gak ada kabarnya sama sekali. Bel udah bunyi 20 menit juga,” kata Nando sambil melihat jam di dinding.

“Sok-sokan nanyain guru padahal elo juga berdoa supaya kosong,” sinis Jasmin.

“Kadang otak lo emang cerdas, Min. Tapi jangan suudzon, gue lagi kangen sama Bu Rere makanya gur tungguin kedatangannya Bu Rere,” jelas Nando. Jasmin melongo mendengar pengakuan dari Nando seorang Nando Hermansyah merindukan Bu Rere? Apa gak salah? Kayanya salah deh? Yang ada Bu Rere yang rindu gak jewer telinga si Nando gegara gak ngerjain tugas keuangan.

“Waras, lo?” bagas memegang dahi Nando. “Pantes, Panas!”

“Kamrpret!!!” teman-teman Nando tertawa melihat reaksi Nando yang di sangka lagi rada-rada konslet.

“Assalamualaikum warrahmatullahiwabarokatuh.” Pengumuman dari balik speaker kelas sudah membuat Nando dan Bagas bersorak ria.

“Diem.” Bagas memberi aba-aba kepada semua siswa untuk diam.

“Diberitahukan kepada seluruh guru untuk mengikuti rapat komite sekolah. Kemudian, untuk siswa kelas X, XI, dan XII untuk belajar mandiri hinggarapat selesai. Sekian wassalamu’alaikum warrahmatullahiwabarokatuh.”

“Yeeeeeeeeeeeee!!!!!!!” bagas dan Nando langsung lompat dan lari ke belakang. Gak terkecuali Rayna dan Jasmin. Semua siswa bahkan berteriak senang. Ini sudah tradisi kalau ada jam kosong, sudah pasti semuanya teriak. Gak terkecuali.

Meskipun disuruh belajar mandiri, tapi kebanyakan siswa lebih memilih ngobrol atau ke kantin timbang baca buku. Kalo enggak  ngegosipin oppa-oppa yang sekseh. Uhhh surga dunia itu kalau ada jam kosong.

“Ayo kepojokan,” ajak Nando.

“Mau ngapain lo? Jangan-jangan mau nonton bokep ya, lo?” selidik  Jasmin.

“Kalian berdua mau ikut? Ayok nanti gue ajarin berbagai macam gaya,” kekeh Bagas

“taik lo!” kesal Jasmin.

“Orang kita mau ke warung koh Acong kok mau sekalian mabar, lumayan wifi sekolah sampai ke sana. Nanti gue kasih gaya buat matiin lawan,” jelas Nando.

“Kirain gue elo mau hehihe.” Jasmin menringis memperlihatkan rentetan gigi putihnya.

“Suudzon ae lo min. Gak baek kata pak uustad.”

“ya udah sana pergi!” usir Jasmin.

“Huuuu... yukk out.” Nando, bagas, dan teman-teman lelaki mulai berhamburan keluar menuju markan tersembunyi milik Koh Acong.

Markas koh Acong adalah markan tepat di sebelah kanan tembok deket parkiran. Jangan khawatir mereka gak lompat pagar, hanya saja mereka membuat lobat besar yang ditutupi kardus untuk keluar. Di sana juga tempat aman buat merreka-mereka yang udah capek sekolah dan bolos.

Bagas dan Nando bukan tipe perokok, jadi mereka emang bener-bener mabar. Game udah jadi pacar setia mereka. Mau dipisahin kaya apapun gak bakal bisa.

“Ray, keluar yuk. Boring gue di sini. Kuping gue panas banget anjir, dari tadi pad ngomongin oppa-oppa. Mending ngomongin kakek gue kek yang nyata ada,” kata Jasmin sambil menutup kedua telinganya.

“Kemana?” tanya Rayna.

“Kantin. Beli es buah, gue ngidam es buah.”

“Boleh, yuk.”

Rayna dan jasmin ke kantin. Kantin sudah sangat penuh dengan manusia-manusia lapar. Ini ni jam kososng juga membawa rejeki Ibu dan Bapak kantin, tapi juga pembawa derita buat siswa karena pemborosan tingkat haqiqi.

“Cing, es buahnya 2,” kata Jasmin.

“Siap, neng. Bentar.” Dengan sigap Cing Lilis meracik es buah.

“Ini neng.”

“Makasih, Cing.”

Lalu Rayna dan Jasmin mencari tempat kosong. Duduk berdua sambil menikmati es buah. Padahal masih pagi kenapa harus minum es. Kan gak bagus? Bodo, otak Rayna lagi butuh siraman qolbu jadi, es buah ini salah satu pendinginnya.

“Gimana?”

“Apanya?”

“Kak Derren?” rayna sudah bisa menebak arah pembicaran Jasmin. Siapa lagi yang akan Jasmin tanyakan kalau bukan masalahnya dengan Derren.

“Auk ah gelap!” jawab Rayna malas.

“Terang-terang gini gelap.”

“Gak tau aku tuh, Min.  Udah ah pusing pala aku, mau meledak nih,” kata rayna sambil menyuapi es buah ke mulutnya.

“Dek, boleh bicara.”

“Uhukkk....” rayna menyemburkan es buah yang sudah masuk ke dalam mulutnya. Ini pati gara-gara suara bass itu. Kampret.

“Rayna jorok!” Jasmin mengangkat es buahnya yang kena semprot Rayna.

“Gue ke toilet dulu. Jorok banget lo jadi cewek.” Jasmin meninggalkan Rayna berdua dengan Derren.

“Jas, mau kemana! Jasmin bayar es  buahnya, kampret!” kesal rayna.

“Sejak kapan seorang jasmin ngomong kaya gitu?” Derren duduk di depan Rayna sambil mengelap bekas air muncratan rayna.

“Dari orok!” Rayna berdiri ingin pergi. Tapi, tangan kokoh derren dengan sigap mencehag rayna.

“Tunggu!”

“Kalau mau bicara jangan di sini. Aku tunggu di belakang kampus,” kata Rayna lalu berjalan pergi.

“Oke kakak segera ke sana.” Derren lalu pergi dengan cepat.

Rayna merutuki dirinya sendiri kenapa bodoh banget, harusnya kan bisa menolak keinginan Derren, lha ini malah ngajak ketemu. Mau bicara apa Rayna.

“Shit!! Ini mulut emang berbisa banget. mau di taro dimana ini muka kalo nanti udah ketemu sama Kak Derren. Aish, nyesel gue,” kata rayna merutuki diri sedniri. Entah sejak kapan rayna mengatakan kata ‘gue’ padahal dalam kamusnya tidak pernah tertera kata gue, elo. Ibunya yang mengajarkanya karena menurut fara kata elo, gue itu adalah kata kasar. Tapi sekarang, Rayna mengatakan kata gue yang seumur-umur baru pertama kali ini dia katakan tanpa disadari.

Rayna berjalan dikoridor kelas. Kenapa Rayna mau saja diajak jasmin ke kantin. Padahal rayna udah tau kalau Derren suka ke kantin. Oon emang si Rayna. pasti ini akal-akalannya si Jasmin. Awas aja si Jasmin akan kena amukan Rayna.

Derren sudah duduk di bangku belakang sekolahan, menunggu Rayna dengan harap-harap. Takut kalau rayna gak datang. Tapi, apa salahnya memberikan kepercayaan. Toh orang yang dipegang adalah ucapannya.

“Ehem...” Rayna berdehem dengan keras.

Derren menoleh ke arah Rayna. senyum Derren sangat sumringah, matahari aja kalah cerahnya. Waktu yang ditunggu Derren selama ini sudah tiba. Dia akan mendengarkan penjelasan dari rayna apa yang sebenarnya terjadi.

“Kakak mau tanya apa?” tanya Rayna.

“Gak mau duduk dulu, biar kelihatan santai aja.” Rayna lalu duduk di samping Derren. Seperti dejavu saat Rayna duduk di taman malam-malam dan Derren meminta nomor telepon Rayna secara terang-terangan.

“Apa yang mau diomongin kak?” tanya Rayna lagi.

“Kenapa kamu menghindar, dek?” Derren mulai membuka pertanyaan kepada Rayna.

“Aku gak menghindar kok, kak. Aku cu....”

“Kalau kamu gak menghindar kenapa sembunyi kalau ketemu kakak. Kenapa chat kakak gak pernah kamu balas sedikitpun. Telepon kakak juga dimatiin begitu aja. Apa itu bukan namanya menghindar?” skak Derren.

“Kak, aku.....”

“Kamu mau bilang kalau kamu sibuk?” potong Derren cepat. “kakak Cuma butuh wwaktu satu detik kamu, dek.ak satu jam. Balas pesan kakak. Kakak Cuma butuh waktu sepuluh menit kkamu, bukan sepuluh jam kamu, angkat telepon kakak. Udah itu aja. Enggak yang lain. Kenapa sekarang kamu jadi kaya gini,” kata Derren sambil menyentuh kedua bahu Rayna. jujur Rayna juga gak tahu harus jawab apa. Rayna bingung apa yang harus dia lakukan. Tapi, pernyataan Derren membuat dada Rayna sesak. Derren tidak apa yang rayna rasakan.

“Kakak mau jawaban dari aku? jawaban apa yang kakak butuh. Jawaban jujur, atau jawaban bohong?” tantang Rayna. derren bingung, kenapa sekrang Rayna malah memberikan pertanyaan itu. Semua orang menginginkan jawaban jujur. Kenapa Rayna masih bertanya.

“Keduanya, jelaskan sama Kakak apa yang ingin kamu jelaskan. Kakak terima konsekuensinya kalau kakak salah,” jawab Derren percaya diri.

“Kakak bilang sama aku, aku hanya butuh waktu satu detik buat balas pesan kakak. Aku Cuma butuh waktu sepuluh menit buat angkat telepon kakak. Sama kaya aku, kak. Aku hanya butuh waktu satu menit kak Derren buat hubungi aku kalau kakak lagi pergi buat olimpiade. Udah gak lebih,” jelas Rayna. jujur rayna mengatakan itu sembari menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar.

“Kakak sekarang udah tau kan alasan aku menghindar dari kak Derren? Kalau emang kak Derren mau pergi, pergi sejauh yang kak Derren mau. Tapi satu, jangan singgah di hati aku. memberikan harapan yang tidak aku pahami, lalu pergi semudah itu tanpa dosa sama sekali. Kakak tau kan rasanya?” kata Rayna yang mulai meneteskan air mata.

“Mungkin kedengerannya konyol, kak. Aku ngehawatirin orang yang gak ada hubungan apa-apa sama aku. mungkin aku egois karena udah berlebihan kaya gini. Tapi setidaknya jangan sia-siain aku. aku udah percaya sama kakak. Aku udah mencoba percaya sama kata-kata kakak, kalau kakak gak akan pergi ninggalin aku tapi nyatanya setidak pentingnya aku sampai-sampai buat ngasih kabar ke aku aja kakak gak mau. Tapi sudahlah, Rayna emang konyol.” Rayna menghapus air matanya yang jatuh.

“Udah gak ada yang perlu kakak dengar lagi kan? Kalau begitu aku pergi lagi, permisi.” Rayna balik kanan dan pergi meninggalkan Derren. Namun Derren menarik lengan Rayna dan membawa Rayna kepelukannya. Uhhh udah kaya film india ya.

“Maaf, sudah membuat kamu khawatir. Jangan pergi.” Derren memeluk Rayna dengan erat.

“Perasaan kakak ke kamu gak pernah berubah, dek. Masih sama kaya dulu. Maafin kakak, kakak pergi gak bilang ke kamu. kakak pergi ikut olimpiade waktu itu secara dadakan. Hp kakak juga ketinggal di rumah, dek. Sesampai di sana Kakak udah harus di karantina selama 2 hari, tadinya kakak mau telepon kamu. tapi, kakak belum hapal nomor kamu. kakak pasrah, habis itu kakak mau buat kejutan. Kakak berjanji sama diri kakak sendiri kalau kakak memenangkan olimpiade itu kakak mau traktir kamu, dek. Tapi takdir berkata lain kakak kalah. Kakah hanya masuk juara harapan 1,” kata Derren jujur.

Rayna diam saja, kenapa sebodoh itu pikiran Rayna. harusnya rayna bisa mendengarkan Jasmin. Benar yang dikataakan Jasmin, Derren sedang berjuang untuk SMA nya. Bukan malah Rayna marah-marah tanpa jelas.

Rayna membalas peluka Derren, tangis Rayna semakin pecah.

“Maafin aku, kak. Aku udah egois, maafin aku. harusnya aku dukung kakak bukan malah ngehindar dari kakak kaya gini. Maafin rayna kak,” kata rayna menyesal.

“Sudah, dek. Sekarang semua sudah jelas. Kakak mohon sama kamu, kalau ada apa-apa cerita sama kakak. Kakak gak mau kamu diemin kakak kaya gini kakak gak bisa. Kakak lebih baik kena marah langsung sama kamu, dek. Daripada kamu diem dan membuat kakak hampir gila.”

“Maaf.”

Derren menghapus air mata Rayna. “Kakak seneng ternyata kamu khawatir sama kakak. Kirain kamu gak nyariin kakak,” kata Derren.

“Kakak gak tau paniknya aku kaya gimana di sini, apalagi semua orang bilang sebentar lagi Kak Derren bawa cewek sehabis olimpiade, tambah kepikiran aku.”

Derren tersenyum melihat kecemburuan Rayna. “Kamu cemburu?” tanya Derren.

“Enggak!” jawab rayna. derren lalu terkekeh melihat wajah Rayna yang merah merona.

“Gak usah ketawa. Aku gak cemburu, mau kakak bawa siapa aja juga terserah. Aku juga sadar aku bukan siapa-siapa,” kata rayna kesal.

‘Dasar  manusia kampret!’ batin Rayna. ‘Udah buat aku nangis, tengsin lagi.

“Kakak udah bilang, rasa kakak ke kamu gak pernah hilang. Mau sekaranga ataupun tujuh tahun yang lalu. Kakak tetap menyayangi kamu, jadi jangan berpikir yang aneh-aneh.”

“Siapa yang berpikiran aneh, aku B aja kok.”

“Gemesin  banget si.” Derren mengusap kepala rayna dengan geregetan.

“Tapi bener juga si yang dikatakan mereka, aku pulang bawa cewek.”

‘Deg!!!’ kejujuran Derren membuat Rayna diam. Senyum yang sedari tadi mengembang kini pudar begitu saja.

“Iya gak apa-apa. Kapan-kapan kenallin ke aku,” jawab rayna.

‘Apanya yang sayang, udah bawa cewek juga. sakit hati aku di PHP kaya gini,

“Kamu mau lihat orangnya. Orangnya ada di depan aku sekarang.”

“Ha???” Rayna melongo. Di depan Derren. Satu-satunya manusia yang di depan Derren adalah rayna. jadi?

“Kamu cewek itu,” kata Derren sambil tersenyum.

Rayna tersenyum mendengar pengakuan Derren. Dunia berasa jadi indah kalau kaya gini. Duh, kok jadi baper ya? Mau kek cowok kaya derren. Hahaha.

“Akan ada saatnya kakak mengungkapkan sesuatu. Meskipun sudah kakak ungkapkan sekarang, bagi kakak itu masih kurang. Jadi, jangan berpikir kakak akan pergi, bukannya kita sudah janji.”

 "Kakak mau bilang apa?"

"Jangan pergi, ataupun jangan pernah memilih pergi. Kakak akan selalu memilih kamu apapun keputusan kakak. Jadi, kalau emang kakak salah, langsung aja bilang. Karena kakak gak mau kamu pergi ninggalin kakak hanya karena masalah sepele. Janji kakak adalah, menjaga kamu, mencintai kamu, dan menyayangi kamu sepenuh hatimu."

"Kakak sayang sama kamu," Kata Derren yang langsung memeluk Rayna.

"Maafin aku, kak."


**************


Aku hanya perlu satu ciptaan Tuhan sepertimu. Jadi, aku akan menjaga ciptaan Tuhan itu, sebaik yang ku mampu.


Jangan lupa like, coment.


Thank You..


Salam


Eka Bie

No comments:

Post a Comment