About Me

My photo
Nama saya Eka Marliana S, sering dipanggil Eka, hobi saya menulis. Moto: Menyerah adalah kekalahan yang kita buat sendiri

DerRay ~ 4

Next ya guys. Udah lama gak up. Diusahakan up tepat waktu.

 

 

Bertemu dengan seseorang yang ingin kita temui memang terkadang bisa membuat kita menjadi bodoh sama seperti Derren. Setiap malam Derren selalu mengirim pesan kepada Rayna, meskipun terkadang Rayna tidak membalas pesan dari Derren. Tapi, yang namanya usaha karena Derren percaya usahanya tidak akan sia-sia. Kesempatan Derren untuk terus mewujudkan mimpinya ini akan dia buktikan. Derren tidak pernah bosan untuk menelpon Rayna, menemani Rayna mengerjakan tugas walaupun hanya sekedar becanda dan bernyanyi memnghibur Rayna.

Satu hal yang Derren suka, mendengar tawa Rayna.

Bukan Derren namanya kalau dia menyerah. Bertemu Rayna adalah harapan Derren sejak tujuh tahun lalu. Jadi, kesempatan ini tidak akan Derren abaikan. Ini adalah tiga hari setelah Derren mengatakan jujur kepada Rayna kalau dia adalah teman masa lalunya. Tiga hari juga Derren selalu datang ke kelas Rayna hanya untuk memberikan bekal makanan kalau Derren tidak melihat Rayna di kantin. Bodoh sekali memang, seorang Ketua Osis mau menghampiri Rayna. Alasan Rayna juga kadang tidak masuk akal saat dirinya ditanya kenapa gak makan di kantin? Jawabnnya sangat simpel, HEMAT. Selama tuga hari itu, Jasmin dengan resmi mendaji detektif cintanya Rayna. Why? Karena Jasmin yakin ada sesuatu diantara Derren dan Rayna. Tidak mungkin seorang ketua Osis yang notabenya dihormati mau rela-rela dateng ke kelas Rayna hanya untuk memberikan bekal  makanan. Oke fiks, Jasmin akan mengetahuinya segera.

Pagi-pagi sekali Derren sudah bersiap-siap untuk menjemput Rayna, helm sudah didipakan dua buah. Bahkan, Derren sudah memeriksa motornya terlebih dahulu. Perbutan Derren belum pernahdia lakukan sebelumnya, karena Rayna yang berhasil membuat dunia Derren sekarang berubah.

“Oma, berangkat dulu. Assalamualaikum,” kata Derren kepada Oma Dera.

“Hati-hati ya?” kata Dera.

“Oke, daa.”

Dera juga sempat bingung sebenarnya apa yang terjadi kepada Derren, kenapa jadi sesemangat ini. Padahal biasanya Derren hanya biasa-biasa saja. Derren memang rajin, tapi serajin-rajinnya Derren, dia tidak pernah berangkat sekolah pukul 06.00 pagi.

Tujuan Derren kali ini adalah rumah Rayna. Pasti Rayna akan terkejut saat melihat Derren menjemput dirinya. Di sepanjang perjalanan senyum Derren tidak pernah se sumringah ini.

“Pagi yang indah,” kata Derren sambil mengendarai motornya.

25 menit untuk sampai ke rumah Rayna.

“Assalamualaikum,” kata Derren sambil mengetuj pintu rumah Rayna.

“Wa’alaikumsallam.” Fara membukakan pintu untuk Derren.

“Pagi, Bu.” Derren mencium punggung lengan Fara.

“Ehh, nak Derren. Tumben pagi-pagi ke sini?” tanya Fara.

“Mau jemput Rayna, bu. Raynanya belum berangkat kan?” tanya Derren.

“Masih pakai kaos kaki dia,” jawab Fara.

“Ray! Ada yang nyari!” teriak Fara.

“Iya sebentar.” Felling Rayna pasti itu Jasmin. Siapa lagi teman Rayna yang suka datang pagi-pagi buat berangkat sekolah bareng. Setelah selesai menggunakan kaos kaki, Rayna keluar sambil menenteng sepatu sekolahnya.

“Lho, Kak Derren?” kejut Rayna. Sungguuh Rayna terkejut, kedatangan Derren tiba-tiba. Derren tidak memberi pesan kepada Rayna bahwa Derren akan menjemout Rayna.

“Berangkat bareng yuk?” ajak Derren.

“Tapi?”

“Rejeki gak boleh ditolak,” kata Derren.

“Iya berangkat aja sama Derren, nanti pulangnya kamu bisa sama Jasmin,” kata Fara.

“Nanti biar Derren yang anter Rayna pulang, Tante. Masak Derren tega buat ninggalin Rayna sendiri. Derren tanggung jawab kok,” kekeh Derren.

Rayna mengggaruk kepala yang tidak gatal. Kenapa jadi seperti ini ya? Apa jangan-jangan niat Derren mau PDKT itu beneran?

“Ya udah sana berangkat, udah siang.”

“Ya udah, Rayna berangkat dulu, Bu.” Rayna mencium tangan Fara.

“Derren juga berangkat, Bu.” Derren juga ikut mencium tangan Fara. Rayna tertegun mendengar Derren menyebut Fara dengan sebutan Ibu. Yang boleh memanggil Ibu kepada Fara hanya Rayna dan Kakak Rayna, Febry.

“Maksud saya, Tante. Maaf.”  Derren juga tidak tau kenapa tiba-tiba mulutnya mengucapkan kata Ibu.

“Udah gak papa. Anggap aja Ibu sendiri,” kata Fara sambil tertawa.

Rayna mengerutkan keningnya, apa maksud Fara? Apa Fara mencoba membuka celah kepada Derren? Atau itu hanya sekedar candaan saja.

“ya udah ayo bernagkat udah siang,” kata Rayn mencoba menghentikan pembicaraan Fara dan Derren sebelum semakin meluas.

“Hati-hati di jalan ya, Rayna pegangan.”

“Apaan si, Bu. Assalamualaikum,” kata Rayna.

“Jaga anak gadis Ibu ya?” kata Fara.

“Rayna juga udah gede kok, Bu.”

“Tenang aja Tante, akan Derren pastikan Rayna aman sampai rumah,” kata Derren yakin.

“Udah mau berangkat gak si! Kalau enggak aku naik sepeda aja,” kata Rayna emosi.

“Berangkat dulu, Tante. Asslamualaikum,” kata Derren.

“Waalaikumsallam.”

Derren memberikan helm satunya kepada Rayna. Rayna yang menerima helm itu lalu memakainya. Di perjalanan Rayna bingung apa yang harus Rayna lakukan. Diam saja seperti patung atau gimana?

“Dek, makasih ya?” kata Derren.

“Buat apa, Kak.”

“Udah kembali lagi.”

Rayna tersenyum, dalam hati Rayna juga mengatakan terima kasih kembali karena sudah datang lagi.

“Terima kasih kembali, kak.”

“Kakak bahagia, jangan pergi lagi ya, dek.”

“Kan kakak yang pergi, aku masih di tempat yang sama kok,” jawab Rayna.

“Kakak gak akan pergi lagi kok, janji.”

Rayna tersenyum, entah mengapa rasanya hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan. Dalam hati Rayna sempat menyesal karena terkadang dia tidak membalas chat dari Derren.

“Kak, maafin Rayna ya?” kata Rayna pelan.

“Maaf kenapa?”

“Kadang aku gak bales chat kakak. Padahal aku udah janji bakal balas chat kakak,” kata Rayna.

“Kalau soal itu kakak yang minta maaf, dek. Kakak selalu ganggu kamu. tapi, kalau kakak boleh jujur, tangan kakak gatal gak chat kamu. meskipun gak kamu balas chat kakak sekalipun, maaf ya udah ganggu kamu,” jelas Derren.

“Makasih ya kak,” kata Rayna.

“Buat apalagi dek? Kok banyak banget makasihnya,” kekeh Derren.

“Udah telepon aku, nungguin aku ngerjain tugas setiap  malam, sampai-sampai kakak tertidur,” kata Rayna.

“Yang namanya berjuang kan gitu, dek.”

Rayna diam saja, memikirkan ucapan Derren. Apa yang diucapkan Derren itu benar. Kalau derren serius dengan apa yang dia ucapkan. Apa derren benar-benar suka sama Rayna? Semua pertanyaan itu hanya berputar-putar di kepala Rayna. Rayna tidak berani menanyakan langsung kepada Derren, takut kalau Derren hanya becanda.

“Udah sarapan?” pertanyaan Derren memecah keheningan Rayna.

“Udah, kakak udah?” tanya Rayna.

“Udah, si. Kamu bawa bekal gak?”

“Bawa kak.”

“Kenapa gak bawa aja, kakak siap kok jadi delivery nya kamu,” kata Derren.

“Gak mau, nanti repotin terus.”

“kakak seneng kok kamu repotin.”

“Aku yang gak seneng kak?”

“Kok bisa, kenapa?”

“Banyak gosip berterbangann kak?” kata Rayna sambil menghela napas.

“Gosip?” Derren mengerutkan keningnya.

Tanpa terasa, Derren dan Rayna sudah sampai di tempat parkir sekolah. Rayna turun dan memberikan helmnya kepada Derren.

“Iyalah, kak. Kakak kelas yang notabenya sebagai ketua osis jadi tukang deliverynya Rayna,” jelas Rayna.

Derren tertawa mendengar ucapannya Rayna.

“Gak usah didengerin ucapan mulut tetangga. Kamu tau, mereka itu hanya kurang kerjaan saja, makanya mau tidak mau ngomongin orang tanpa tau faktanya,” jawab Derren. “Gak usah diladenin, Dek. Kakak aja gak masalah kok.”

“Ya udah kak, aku ke kelas dulu. Sebelum Jasmin lihat aku dibonceng kakak. Bisa gawat.”

“Hidupmu gak tenang banget si, dek.” Derren tertawa melihat kepanikan Rayna.

“Gimana mau tenang kak, kemarin Jasmin sudah meeutuskan mau menjadi detektif, mau menyelidiki hubungan aku sama kak Derren,” jelas Rayna.

“Bukannya malah alhamdullilah ya, kan jadinya kakak banyak pendukungnya,” jawab Derren.

“Pendukung? Pendukung apaan?” Rayna tidka paham maksud Derren.

“Pendukung untuk mendapatkan cintanya Rayna,” jawab Derren.

“Ha???” rayna menelan ludah mendengar ucapan Derren. Ini telinga Rayna yang salah dengan atau emang Derren salah ngomong.

“Udah saba ke kelas, nanti kakak tunggu di parkiran.”

“Gak usah, aku naik angkot aja,” jawab Rayna gerogi.

“Kakak udah janji bakal bawa kamu ke Ibu, jadi jangan ajari kakak buat jadi pendusta.”

“Dia ibu aku kak, kakak gak boleh panggil Ibu aku dengan sebutan Ibu,” kata Rayna. Ya, telinga sangat sensitif saat ada orang lain memanggil Fara dengan sebutan Ibu, karena bagi Rayna, Fara adalah ibunya. Hanya Raya dann Febry yang boleh menyebutnya dengan sebutan Ibu.

“Dia akan jadi Ibu aku juga nantinya,” kata Derren sambil tertawa.

“Apa-apaan, aku ke kelas dulu.” Rayna memutuskan untuk pergi, sebelum Derren semakin membuat jantung Rayna berdetak tidak karuan, kehadiran Derren membuat Rayna pusing.

“Nanti aku tunggu di sini!” teriak Derren. Rayna berlari menuju kelasnya, pura-pura tidak dengar teriakan Derren. Derren yang melihat Rayna salah tingkah tertawa, sangat lucu  memang. Membuat Derren semakin bersemangat saja  mengejar Rayna. Entah mengapa kehadiran Rayna membuat hidup Derren berubah.

Kehidupan Derren yang tadinya biasa saja, sekarang lebih berwarna. Derren menyukainya, ya Derren menyukai Rayna sejak tujuh tahun lalu, Derren tidak bisa berhenti membayangkan kejadian tuhuj tahun lamanya. Berulangkali Derren ingin melupakan Rayna, namun gagal. Disetiap doa derren, selalu tersimpan nama Rayna, berharap Allah mau mengabulkan permintaannya untuk bertemu dengan Rayna. Takdir memang tidak pernah salah, takdir selalu mengabulkan apa yang Derren minta, meskipun Derren harus menunggu dengan waktu sangat lama, tidak masalah karena waktu sudah menjawab semua doanya.

 

 

Rayna menghela napas pelan, duduk di kursi kelas dengan perasaan kacau. Rayna memegang dadanya yang berdegub kencang.

“Kenapa jadi deg-degan ya?” kata Rayna.

“Ray, Ray. Ada berita gawat!” Jasmin datang dengan napas tersengal-sengal.

“Apaan!” Rayna ikut panik juga melihat kepanikan Jasmin.

“Kak Derren!”

“Ha!!! Kak Derren kenapa?” entah kenapa Rayna jadi panik sendiri mendengat nama Derren di dalam cerita Jasmin.

“Cie panik?” ledek Jasmin.

“Jasmin serius kenapa si!” omel Rayna. Jasmin meringis mendegar omelan Rayna.

“Itu Kak Derren boncengin cewek,” kata Jasmin mulai serius lagi.

“Ha?” rayna tidak paham maksud Jasmin.

“Tadi waktu aku lewat parkiran, aku lihat motor Kak Derren, terus aku amati tuh motor kak Derren, eh ada helmnya dua. Berarti Kak Derren kan boncengin cewek lain,” jelas Jasmin.

Rayna diam saja emndengar cerita Jasmin, gimana mau kaget, karena orang yang dimaksud itu adalah Rayna.

“Ohhh....”

“Kok Cuma Oh si, Ray,” kata Jasmin.

“Terus aku harus gimana?”

“Kaget kek denger berita kalo Kak Derren boncengin cewek lain,” kesal Jasmin.

“Ya gimana lagi, biarin aja. Jangan negatif thingking, Jas. Siapa tau Kak Derren nganterin Ibunya ke pasar,” kata Rayna.

“Kak Derren udah gak punya ibu.”

“Udah tau.”

“Elo tau darimana?” Jasmin mulai curiga kepada Rayna, kenapa tiba-tiba Rayna tau persoalan Derre. Bukannya Rayna tidak tau menau tentang Derren ya?

“Ha???”

“Kok elo bisa tau? Bukannya elo paling gak suka ya tentang Kak Derren, tapi kok elo tau kalo Ibu Kak Derren udah gak ada,” selidik Jasmin.

Rayna tertawa getir mendengar penjelasan Jasmin. “Kak Derren kan siswa famous Jasmin, semua siswi juga pada nyeritain kehidupan Kak Derren. Masa iya aku juga gak tau, satu kelas juga udah tau pastinya,” kata Rayna.

“Elo bener juga si.”

“Nah kan. Udah deh, ya mungkin aja Kak Derren tadi nganterin siapa, makanya bawa helm dua.”

“Semoga aja si, gue takutnya kalo dia boncengan sama cewek, Ray.”

“lha kenapa?”

“Karena gue tau elo suka sama Kak Derren.”

Rayna kaget mendengar ucapan Jasmin. “Kok bawa-bawa aku!” Rayan tidak terima dengan ucapan Jasmin. Apa-apaan, Rayna tidak suka kalau dia dibawa-bawa dalam masalah. Menyukai Derren sama saja mencari masalah.

“Hehehe.” Jasmin hanya meringis tanpa dosa.

 

 

Pulang tlah tiba, Rayna mau ke parkiran gak ya? Untuk menemui Derren. Ada beberapa hal yang mengganjal dipikiran Rayna. Rayna takut kalau ada orang yang melihat Derren membonceng dirinya. Rayna takut kalau ada yang tau kalau yang dibonceng Derren adalah Rayna. Ya, Rayna takut. Entahlah kenapa Rayna bisa setakut itu.

Tapi, jika dia pulang dan meninggalkan Derren, bagaimana kalau Derren menunggu Rayna. Mendung sudah tiba, bagaimana kalau Derren masih menunggunya.

Rayna memutuskan untuk ke parkiran. Sudahlah tida masalah ada yang melihat Rayna dengan Derren. Itu akan Rayna pikirkan nanti, setidaknya teman Rayna sudah sebagian pulang. Jadi, lumayan sepi.

Rayna berjalan menuju parkiran, meskipun setengah hatinya tidak tenang. Terlihat di sana Derren sedang duduk di atas motor, sesekali menyeka rambutnya yang ada di dahi.

“Kak,” sapa Rayna.

“Ehh kirain gak dateng,” kata Derren.

Rayna tersenyum simpul, “Pulang yuk?” ajak Rayna.

“Kenapa? Ada yang dipikirin?” tanya Derren. Derren melihat kegelisahan Rayna yang mengganggu pikirannya.

“Gak ada apa-apa kok, kak.” Rayna mencoba menutupi karena Rayna tidak mau Derren terlibat di dalamnya. Padahal secara tidak langsung Derrem juga sudah terlibat.

“Cerita aja, aku siap dnegerin.”

“Aku takut, Kak. Aku takut kalo ada orang yang tau kalau aku boncengan sama kakak. Aku takut, kalau ada yang lihat terus buat gosip. Aku tajut, Kak.” Rayna menundukkan kepalanya. Beban yang dia tanggung sebagian sudah hilang, Rayna juga tidak tau kenapa tiba-tiba hatinya menyuruhnya untuk mengatakan kepada Derren.

Derren menepuk bahu Rayna. “Kamu terrlalu baik, Dek. Kamu mau memikirkan orang lain. Padahal belum terntu orang itu mikirin kamu,” kata Derren tesenyum.

“Jangan takut, kenapa harus takut. Yang kakak tau seorang Rayna itu gak pernah takut sama apapun. Malah kakak denger waktu MOS kemarin kamu sempat bertengkar sama Kak Sifa, tuh kamu berani.”

“Beda, kak. Waktu itu Kak Sifa tarik rambut aku karena aku salah pake pitanya, aku tau itu salah aku, tapi Ibu aku aja gak pernah jambak aku, ya aku marrahlah,” jelas Rayna.

“Kakak juga marah kalau kakak lihat kamu diperlakukan kaya gitu, udah kakak marahin semua osisi kemarin,” kata Derren.

“Kakak marahin semua.”

“Iya. Jadi gak usah takut sama mereka, mereka yang bisanya ngomongin orang adalah mereka yang kurang kerjaan, jadi sudahlah. Biarkan saja mereka mebahas dunia mereka sendiri. bukannya harusnya kita senang ya, kalo dibicarain orang otu tandanya hidup kita bahagia, terus dosa kita berkurang deh,” kata Derren sambil tersenyum.

Derren benar, buat apa takut. Yang harus ditakuti itu Cuma sang pencipta sama orang tua. Takut sama mereka-mereka itu Cuma orang bodoh, karena tidak mau bersyukur sudah diberi kekuatan.

“Kak Derren benar, ayok pulang.” Rayna sudah bisa tersenyum bahagia.

“Udah gak sedih?” tanya Derren.

“Kan gak boleh sedih, kalau sedih tandanya kurang bersyukur,” jawab Rayna.

Derren tertawa lalu mengusap kepala Rayna.

“Ya udah ayo naik, mau hujan nanti kamu malah kehujanan.”

“Ayok.”

Derren lalu membonceng Rayna untuk pulang ke rumah. Rasa bahaia muncul begitu saja. Rayna bersyukur, Allah mengirimkan orang seperti Derren di hidupnya. Meskipun Derren terlalu sempurna, tapi Rayna bahagia.

“Pegangan.”

“Iya.” Rayna lalu mencekal tepi baju Derren, malu kalau mau peluk Derren.

“Kau begitu sempurna

Dimataku kau begitu indah

Kau membuat diriku akan slalu memujamu

Disetiap langkahku

Kukan slalu memikirkan dirimu

Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu

Janganlah kau tinggalkan diriku

Takkan mampu menghadapi semua

Hanya bersamamu ku akan bisaku

Kau adalah darahku...

Kau adalah jantungku....

Kau adalah hidupku, lengkapi diriku

Oh sayangku kau begitu...

Sempurna....

 

Rayna tertawa mendengar suara fals Derren, meskipun fals tapi terdengar cute.

“Kakak gak bisa nyanyi, dek.”

“Bagus tapi.”

“Dari hongkong ya?”

Dari hati aku,’ batin Rayna.

“Dari atas motor kakak,”  jawab Rayna. ya kali Rayna mau mengikuti kata hatinya, bisa-bisa dia salting di depan Derren. Tapi, meskipun begitu rasa nyaman datang begitu saja.

Derren dan rayna tertawa bersama. Meskipun waktu terbilang sangat singkat, namun bisa membuat Rayna melepaskan beban yang ada di pikirannya.

‘Terima Kasih Kak Derren.’

Sesampai di rumah Rayna, Rayna melepas helmnya.

“Mampir dulu?” kata rayna.

“Gak usah, udah mau hujan. Salam buat Ibu ya?” kata Derren.

“Dia Ibu aku kak,” jawab Rayna.

“Kan mau jadi Ibu aku juga,” kekeh Derren.

“Kakak ihh.” Rayna cemberut di depan Derren, dan ini membuat Derren gemas dibuatnya.

“Iya-iya. Salam buat tante ya?”

“Nah gitu dong.” Rayna tersenyum sambil mengangkat jempolnya.

“Besok mau dijemput lagi?”

“Gak usah, udah kaya tukang ojek aja,” kata Rayna.

“Gak papa asal sama kamu.”

“Kakak! Jangan buat aku baper deh.” Rayna  menutu wajahnya dengan tangannya. Rayna yakin, pasti wajah Rayna sudah merah. Derren tertawa melihat tingkah lucu Rayna.

“Lucu banget si,” kata Derren sambil mengusap kepala Rayna.

“Kak  buat baper anak orang juga dosa, lho.” Rayna menunjuk ke arah wajah Derrem. Itu sebagai peringatan. Wajah Rayna kali ini serius.

“Iya-iya maaf,” kata Derren menahan tawa.

“Ya udah aku mau masuk dulu. Kakak hati-hati di jalan ya?”

“Rayna, tunggu!” Derren mencekal lengan Rayna, mencegah Rayna untuk masuk ke dalam rumah. Rayna menatap tangannya, dag-dig-dug sudah jantungnya kali ini.

“Ke... kenapa, kak?” tanya Rayna gugup.

“Jangan tinggalin, kakak. Kakak mohon.”

Rayna masih menatap mata Derren, tersimpan ketulusan di dalamnya.

“Kakak mohon, jangan pergi lagi.” kenapa ada rasa yang mengganjal di hati Rayna ya? Kenapa hati Rayna seperti tersayat melihat kesedihan Derren. Rayna juga tidak tahu kenapa. Apa yang terjadi? Apa benar yang dikatakan Jasmin kalau Rayna menyukai Derren.

“Aku ada di sini kok, kak. Aku gak akan kemana-mana. Kapanpun kakak butuh aku, aku siap bantu. Percayalah, kalau aku ada di sini,” kata Rayna tersenyum. Mungkin kata-kata rayna terdengar puitis, tapi Rayna tulus mengatakannya.

“Janji.” Derren mengangkat kelingkingnya.

“Janji." Rayna menggabungkan jari kelingkingnya dengan jari Derren. Derren tersenyum, setidaknya semua itu sudah membua dirinya sedikit lebih tenang.

“Ya udah kakak pulang dulu,” kata Derren lega.

“Hati-hati.”

Rayna menatap kepergian Derren, dalam hati dia juga beroda supaya Derren juga tidak pergi. Rayna melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumah.


**********************************************************************************


Semesta punya caranya sendiri untuk mempertemukan kita, ebah melalui jalur apa saja. Namun, satu hal yang aku takutkan juga. Aku takut, bahwa semesta juga punya caranya sendiri unruk memisahkan kita.

No comments:

Post a Comment