About Me

My photo
Nama saya Eka Marliana S, sering dipanggil Eka, hobi saya menulis. Moto: Menyerah adalah kekalahan yang kita buat sendiri

DerRay ~ 5

 

Jika memang ini adalah perasaan cinta, maka jangan datang memberi bahagia lalu pergi begitu saja.

~ Rayna Ramadhani

 

 

Bingung adalah kata yang tepat untuk Rayna. rayna tidak tau, tentang semua perasaan yang ada di hatinya. Jika memang ini bukan rasa cinta, tapi kenapa Rayna merasa sakit saat melihat Derren sedih. Seolah ada magnet yang menarik Rayna untuk memberi semangat kepada Derren. Namun, jika ini memang rasa cinta. Kenapa setengah hati kecil Rayna menolak bahwa dia mencintai Derren. 

Entahlah, Rayna tidak tahu.

Rayna hanya minta, jika memang rasa yang Rayna miliki ini adalah rasa cinta, jangan datangkan luka pada akhirnya. Karena Rayna belum siap merasakan sakitnya luka.

“Kak Derren kok gak ngehubungi aku ya? Biasanya dia bangunin aku buat sholat tahajud, kok sekarang enggak. Udah setengah tujuh juga, tapi kok gak ngasih kabar ya?” kata Rayna pelan.

Drrrt.... Drrttt....’ Rayna segera membuka ponselnya, berharap Derren yang mengirim pesan itu.

Jasmin Cerewet

Ray, berangkat bareng ya? Gue ke rumah, lo.

 

Rayna menghela napas pelan, bukan Derren ternyata tetapi Jasmin.

Rayna

Iya kesini aja, jangan lama-lama aku tunggu.

 

Rayna mengirim pesan itu kepada Jasmin.

“Bu, Rayna berangkat ya?” kata Rayna.

“Gak sama Derren?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Ya karena kak Derren gak jemput Rayna, bu.”

“Ya udah deh, hati-hati ya?” ada rasa yang hilang dalam diri Rayna, saat Derren tidak memberi kabar kepada Rayna. Apa ini adalah definisi cinta, takut kehilangan?

“Assalamu’alaikum.” Rayna mencium tangan Fara.

“Wa’alaikumsallam.”

“Ray, ayo udah siang nih.” Jasmin sudah memegang sepeda Rayna dan siap membonceng Rayna.

“Main ambil sepeda orang aja,” kesal Rayna.

“Ya udah ayo. Mau kena hukum?”

“Iya-iya.”

“Bu, berangkat ya!” teriak Jasmin.

“Hati-hati...” belum sempat meneruskan ucapannya, Jasmin sudah menggayuh pedal sepeda dengan cepat. Fara hanya geleng-geleng kepala melihat Jasmin yang ngebut membawa sepeda Rayna.

“Jas, kalo bawa sepeda hati-hati.”

“Elo diem aja deh, jangan banyak bicara, Neng Jasmin lagi fokus nyetir,” kata Jasmin sambil menggayuh sepeda.

Rayna mencibir saja di belakang Jasmmin, kalau diboncengnya sama Derren, mungkin beda lagi ceritanya. Lha ini sama Jasmin, gak ada seru-serunya gitu. Ibarat Le Mineral yang katanya ada manis-manisnya gitu mendadak ada pahit-pahitnya gitu.

Kenapa pikiran Rayna terbang ke Derren? Rayna menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayangan Derren.

“Ray, diem-diem bae,” ucapan Jasmin mengangetkan Rayna.

“Katanya suruuh diem, Neng Jasmin masih nyetir.”

“Gak diem kaya patung juga kali, Ray.”

“Serba salah deh!” kesal Rayna.

Sesampai di sekolahan, Jasmin memarkirkan sepeda Rayna. mata Rayna melihat kanan Kiri, mengamati satu persatu kendaraan yang sudah tertata rapi di parkiran.

“Ray,” senggol jasmin.

“Kok gak ada motor Kak Derren ya?’ kata Jasmin. Ternyata Jasmin juga sedang mengamati setiap inchi parkiran hanya untuk melihat motor Derren.

Sumpah demi apapun, Rayna mendadak galau. Kegalauan Rayna hanya karena satu orang Derren. Apa ini juga definisi cinta? Galau karena seseorang.

“Gak tau!” Rayna langsung meninggalkan parkiran. Mood Rayna hancur, sangat hancur.

Jasmin yang meihat perubahan pada diri Rayna jadi  merasa aneh. Ada apa dengan Rayna?

“Ray, tunggu!” Jasmin mengejar Rayna.

Pikiran Rayna sudah sangat kacau, entahlah semuanya membuat Rayna terbebani. Mulai dari tentang rasa yang ada di hatinya, Derren yang tak kunjung Rayna temui. Sesulit ituah memberi kabar?

Dimana kamu, kak?’ batin Rayna.

Rayna hampir menangis. Keadaan ini belum pernah Rayna alami. Baru kali ini Rayna merasa kehilangan. Salah ini kedua kalinya Rayna merasa kehilangan, pertama Rayna kehilangan ayahnya. Kedua, Derren pergi meninggalkan Rayna tanpa ada kabar. Apa ini juga pengertian cinta? Meneteskan air mata hanya karena orang itu pergi tanpa kabar?

“Lo tau gak kalau ketos SMA kita sekarang ikut olimpiade tingkat Provinsi. Mewakili DKI Jakarta,” kata salah satu siswi yang mungkin fans Derren.

Rayna memperlambat jalannya saat mendengar kata Ketos dari seorang siswi. Rayna mulai memasang telinga dan mendengarkan semuanya.

“Serius, lo.”

“Mana  mungkin gue bohong. Kakak gue yang bilang semalam, kakak gue kan satu kelas sama Kak Derren. Berangkat semalam sehabis maghrib,” jelasnya.

“Wahhh... keren ya, kalau Kak Derren lulus siapa yang mau gantiin dia coba, udah ganteng, otaknya triple-triple lagi.”

“Hooh, gue juga bingung makan apa tuh Kak Derren bisa kaya gitu.”

Rayna mempercepat langkahnya, perassaanya kesal kepada Derren, entah mengapa Rayna ingin marah kepada Derren. Tega dia gak ngasih kabar kepada Rayna. Apa susahnya memberi kabar.

Satu hal, Rayna membenci Derren! Ingat Rayna membencinya.

Padahal jika dipikir Derren buka pacar Rayna, tapi kenapa Rayna membenci Derren? Dimana salah Derren?

Jasmin yang melihat kesedihan di wajah Rayna hanya diam saja. Rayna ingin menangis, jujur Rayna ingin menangis.

“Ray, sabar ya.” Jasmin menepuk lembut bahu Rayna.

Rayna memeluk Jasmin, tangis Rayna pecah begitu saja. Entahlah, kondisi Rayna kacau. Padahal Derren bukan siapa-siapa Rayna, hanya kakak kelas Rayna, tapi Rayna merasa ada yang hilang saat Derren tidak ada.

“Kak Derren llagi berjuang buat SMA kita, Ray. Kak Derren pasti kembali kok.”

Rayna  masih menangis dipelukan Jasmin, Rayna juga gak tau kenapa Jasmin bisa tahu kalau dirinya menangis karena Derren. Apa raut wajah Rayna sangat terlihat.

“Jas, elo apain si Rayna. sampai nangis gitu,” kata Nando.

“Apaan si! Gak gue apa-apain lah. Rayna nangis karena dia tadi gak dikasih uang jajan sama ibunya,” kata Jasmin bohong.

“Ya elah, Ray. Kaya anak kecil aja. Elo kan punya temen di sekolah ini. Kalo gak dikasih jajan gue siap kok bantuin elo,” kata Nando.

“Elo mau kasih, Do?” tanya Bagas.

“Ya enggak gue utangin maksudnnya,” kata Nando meringis.

“Pake uang gue aja, Ray. Gak usah lo balikin gak papa kok, gue iklas.” Bagas memberikan uang 10.000 kepada Rayna. padahal Rayna juga sudah diberi uang saku kepada Fara, tapi Jasmin mungkin tadi sedang mencari alasan supaya tidak mengatakan kalau Rayna menangis karena ditinggal pergi sama Derren.

“Gak usah, aku udah bawa bekel kok,” kata Rayna mengembalikan uang Bagas.

“Gak papa, Ray. Gue masih ada uang kok. Gak usah khawatir, apa sih yang engga buat elo,” kata Bagas sambil meringis.

“Gak usah, Gas. Jasmin tadi udah kasih uang ke aku kok. Makasih ya?” kata Rayna.

“Jadi ini gak mau?”

“Enggak makasih.”

“Alhamdullilah, gak jadi berkurang.” Bagas mengusap dadanya dan mencium uang 10.000 itu lalu memasukkannya ke dalam kantong.

“Dasar Gas LPG!” omel Jasmin.

“Mimin oh... mimin ohh... miminnnn I Love You.”

“Gas LPG gila!” teriak Jasmin.

Rayna tertawa melihat kegilaan teman-temannya ini. Setidaknya masih ada yang membuatnya tersenyum lagi. ketika hatimu patah, di situ pasti akan ada orang-orang yang membuatmu tertawa. Teman contohnya.

Waktu berjalan sangat lambat, seakan membuat Rayna malas. Pikirannya sudah tidak bisa diajak kompromi. Apalagi tadi semua siswi mwmwbahs tentang Derren, dan parahnya lagi ada yang mengatakan pasti Derren pulang membawa pacar yang dia temui di lomba LCC, secara pasti cewek di sana cantik-cantik. Karena ada 34 provinsi di sana.

Rayna ingin menutup telinganya rapat-rapat tapi, tidak bisa. Karena telinga ditadirkan untuk mendengar.

Tuhan!!!! Cepatkan waktu ini segera!!!

“Ray... ayo cepet, mau pulang gak si!” jasmin menarik lengan Rayna, karena Rayna tubuhnya sangat tidak mood.

“Iya, Jas. Sabar kek.”

“Ray, kalau elo percaya Kak Derren bakal balik, gue yakin kak Derren balik kok. Jangan pesimis, Rayna.”

“Kok kamu tau kalau aku galau karena Kak Derren?” tanya Rayna.

“Ya udah sambil pulang ayo. Nanti aku ceritain.”

Rayna mengangguk lalu duduk di boncengan belakang. Jasmin mulai menggayuh sepedanya.

“Gue udah tau, Ray. Semennjak kejadian elo pingsan itu, gue lihat kepanikan Kak Derren waktu denger elo pingsan. Saat gue lihat Kak Derren ada di UKS disitu gue mulai curiga. Terus, waktu Kak Derren minta nomor telepon elo, dan waktu Kak Derren nyuruh elo buat merhatiin dia daripada novel di situ gue juga curiga. Mulai dari kejadian itu gue putusin buat jadi stalker elo kan? Nah, gue juga udah tahu waktu tujuh tahun itu, meskipun gue gak tahu pastinya peristiwa tujuh tahun itu, tapi gue dnger kalo payung ungu lo itu dari Kak Derren,” jelas Jasmin panjang lebar.

“Berarti kamu udah tahu semuanya,” kata Rayna kaget. “Bukannya kamu udah pulang naik angkit ya, Jas?”

“Yang namanya stalker juga pinter-pinter cari titik terang kali, Ray. Jadi, gue udah bisatebak elo dari tadi pagi sampai sekarang galau Cuma gara-gara Kak Derren. Tenang aja, Kak Derren sukanya sama, lo. Jadi gak mungkin kecantol sama cewek lain.”

“Bukan itu, Jas. Kayaknya aku gak ada hak buat khawatirin Kak Derren?” kata Rayna.

“Kok gitu?” jasmin memperlambat laju sepeda yang dibawanya.

“Aku gak ada hubungan apa-apa sama Kak Derren, Jas. Kalau aku mau marah sama Kak Derren juga percuma, aku sendiri yang bakal malu,” jelas rayna.

“Ray, bisa gak. Gengsi lo itu elo turunin sedikit aja. Elo udah kelihatan galau mikirin Kak Derren aja masih mau jaim ngaku, heran gue sama, lo.”

“Ya gimana, Jas. Kak Derren pergi tanpa ngasih kabar ke aku. Itu juga bisa ditarik kesimpulan kalau aku gak penting buat Kak Derren, Jas. Kalau aku emang penting di hidupnya Kak Derren, apa susahnya ngasih kabar? Lha ini, pergi tanpa ngasih alasan yang jelas main pergi aja.”

“Nah itu yang harus elo tunggu. Elo harus denger penjelasan Kak Derren kenapa gak ngasih kabar ke elo. Gue yakin Kak Derren bukan sengaja gak ngasih kabar ke elo, Ray. Elo sabar nunggu Kak Derren pulang, dengerin penjelasannya, baru elo bisa ambil kesimpulan,” jelas Jasmin pelan-pelan.

“Udahlah, Kak Derren udah gak peduli juga sama aku. mungkin yang kemarin-kemarin itu Cuma formalitas biasa aja. Gak mungkin juga Kak Derren suka sama aku, aku juga sadar diri, Jas. Udahlah aku gak mau berharap. Biarin aja!”

“Elo....”

“Udah, jas. Jangan diperpanjang lagi.”

Ternyata, berharap itu seperti berperang dengan bawang. Berakhir dengan tetesan air mata.

Jasmin hanya bisa diam. Biarlah Rayna yang mencari sendiri jawaban yang benar. Tapi, entah mengapa Jasmin yakin kalau Derren tidak seperti itu. Apalagi, Jasmin pernah dengar dari mulut tetangga kalau Derren tidak pernah dekat cewek lain. Itu berarti Rayna adalah satu-satynya Cewek yang Derren dekati. Jadi rasanya tidak mungkin kalau Derren dengan sengaja membuat Rayna sedih seperti ini. Pasti ada maksud.

“Udah gak usah sedih, gue mau pulang. Makasih ya, udah boleh nebeng. Besok lagi gue juga ikut sama lo ya, Ray. Itung-itung hemat ongkos,” kata Jasmin.

"Iya ke sini aja.”

“Udah gak usah cemberut gitu. Gue pulang ya, makasih.” Jasmin pulang setelah memberikan sepeda Rayna kembali kepemiliknya. Rumah Rayna dan Jasmin memang terbilang dekat, hanya berjarak 100 meter.

“Hati-hati!” teriak Rayna.

Jasmin mengangkat ibu jarinya tanda siap. Rayna lalu memasukkan sepedanya ke teras rumah.

“Assalamu’alaikum.” Salam Rayna tidak ada yang menjawab. Kemana Fara? Tidak seperti biasanya Fara tidak di rumah. Rayna baru ingat kalau hari ini hari Rabu, dan Fara sedang pergi arisan di rumah tetangga. Rayna lalu masuk begitu saja. Sepi, keadaan rumah sangat sepi. Sama seperti hati Rayna, sepi tak berpenghuni.

Rayna merebahkan tubuhnya ke  kasur. Mengecek hp yang sedari tadi tidak dia keluarkan. Hasilnya masih sama, tidak ada chat dari Derren. Hanya grup kelas yang sedari tadi pagi ramai entah membahas apa.

Apa benar yang dikatakan Jasmin, kalau kita tidak boleh jaim. Tapi, Rayna takut berharap. Rayna takut, jika dia mencintai Derren, Rayna hanya akan terluka. Karena Derren dan Rayna itu bagai langit dan bumi. Perbandingannya pun sangat terlihat. Derren yang sangat sempurna sedangkan Rayna yang tidak memiliki kelebihan apa-apa.

Rayna menghela napas pelan, hatinya semakin kacau. Kenapa pikirannya selalu negatif thingking kepada Derren.

“Ayo Rayna jangan pikirin Kak Derren terus. Nanti hati kamu semakin tidak tenang,” kata Rayna pada dirinya sendiri.

Rayna memejamkan matanya, lelah sudah pikirannya. Memikirkan Derren membuat tenaganya terkuras. Rasanya Rayna tidak semangat. Mungkin yang diucapkan mereka-mereka benar, Derren sudah tergoda dengan cewek yang ada di sana. Sudahlah jangan berharap.

 

Tiga hari kemudian

Ini adalah hari dimana Derren sudah pulang. Derren tersenyum sumringah. Bagaimana tidak, selama tiga hari dia di karantina. Derren harus berurusan dan mneguras otaknya untuk memenangkan olimpiade.

Tapi, ini adalah dimana hari Derren akan bertemu dengan Rayna. derren sangat merindukan Rayna. tiga hari Derren di karantina dia sellau terngiang oleh tawa Rayna. derren merindukan cewek itu.

Derren ke rumah Rayna untuk menjemput Rayna, namun Ibu Rayna mengatakan bahwa Rayna sudah berangkat sejak tadi pagi. Derren kemudian melanjutkan ke sekolahannya. Namun, saat diparkiran Derren tidak melihat sepeda Rayna? kata Fara, Rayna tidak berangkat. Namun, kenapa sesampai di parkiran sepeda Rayna tidak ada. Apa Rayna tidak membawa sepeda? Derren berjalan ke kelas Rayna. bukankah masih terlalu pagi untuk sampai di sekolahan.

“Dek, lihat rayna?” tanya Derren kepada teman Rayna.

“Belum berangkat, kak.”

“Ha... belum beramgkat!” Derren terkejut bukan main. Kemana Rayna, kenapa Derren tidak melihat Rayna juga.

Derren keluar dari kelas Rayna. kebingungan Derren semakin  menjadi karena sampai bell berbunyi Derren tidak kunjung melihat Rayna. mungkin istirahat nnati Derren akan bertemu dengan Derren.

 

 

Rayna masuk ke kelas lima menit setelah bel berbuyni. Rayna memang sengaja berangkat pagi-pagi. Namun, Rayna ke rumah Jasmin terlebih dahulu. Ada tugas kelompokk yang belum Rayna kerjakan, dan akhirnya rayna harus meluangkan waktu paginya ke rumah Jasmin. Padahal ada maksud lain dalam diri Rayna, yaitu mengindari Derren. Rayna sudah tahukalau Derren hari ini pulang. Biasa teman-temannya semalam ribut membicarakan Derren yang sudah pulang.

“Ray, tadi ada yang cari!” kata teman rayna.

“Siapa, Fis?” tanay Rayna kepada Nafis.

“Kak Derren.”

Satu nama namun membuat Rayna terkejut. Serius? Apa benar Derren mencarinya? Kayanya gak mungkin. Pasti Nafis ssdang becanda.

“Cieeeee.....” Jasmin, Bagas , dan Nando langsung membully Rayna.

“Apaan si!”

Rayna sedang tidak mood dengan Derren. Jadi, biarkan saja Derren mencari Rayna. rayna tidak peduli lagi. hatinya sudah terlanjur kecewa selama 4 hari. Jadi, sudahlah.

Bel isitrahat sudah tiba. Rayna bertugas mengembalikan buku ke perpun bersama Jasmin.

“Jas, ayo  ngembaliin buku. Berat ini,” kesal Rayna.

“Sabar, Ray. Berat mana si antara buku sama beban hidup, lo.”

“Gak usah bawa-bawa beban hidup aku juga kali. Udah ayo,” ajak Rayna.

“Iya nona Rayna yang cantik jelita.”

Rayna meringis mengdengar sebutan baru untuk dirinya. Rayna lalu membawa buku itu bersama jasmin. Sepanjang perjalanan Rayna becanda dengan Jasmin tentang tugasnya yang dikerjakan pagi tadi, bukankah itu hal konyol?

“Rayna!!!” panggil seseorang.

Rayna menghentikan langkahnya. Derren, kenapa harus bertemu Derren?

“Ray.” Derren langsung memelk Rayna.

“Maaf kak.” Rayna langsung melepas pelukan Derren.

“Maaf.” Derren merasakan ketidaknyamanan Rayna.

“Ayo, Jas.” Rayna berjalan melewawti Derren.

“Dek, tunggu!” Derren melarang Rayna untuk pergi.

“Maaf, kak. Aku lagi sibuk. Ada hal yang harus aku urus. Ayo, Jas.” Rayna lalu pergi begitu saja. Tidak peeduli dengan kekecewaan Derren.

“Ray, elo tega sama Kak Derren?” tanya Jasmin.

“Dia lebih tega sama aku.”

“Ray....”

“Sudah, Jas. Jangan bahas Kak Derren lagi.”

Derren menatap kepergian Rayna. apa ada yang salah dengan Derren? Menagapa Rayna seakan menjauhi dirinya? Padahal Derren hanya merindukan Rayna saja, apa salah?

“Apa yang terjadi?”


*****************

Cinta adalah .........

Apa definisi cinta menurut kalian?

 

Jangan lupa vote and comment ya? Akan aku up segera

 

Thank you

No comments:

Post a Comment