About Me

My photo
Nama saya Eka Marliana S, sering dipanggil Eka, hobi saya menulis. Moto: Menyerah adalah kekalahan yang kita buat sendiri

DerRay ~ 6

 Aku lebih memilih kena marah langsung, daripada aku harus melihatmu diam tanpa mau berbicara denganku

Derren Wijaya

 

 

Derren tidak tahu apa yang terjadi, kenapa Rayna akhir-akhir ini mendiamkannya. Sudah hampir satu minggu Rayna menghindar dari Derren, Derren sempat bertanya kepada Jasmin apa ada masalah dengan Rayna? jasmin hanya  menjawab mungkin Rayna memang sedang sibuk dengan tugas-tugasnya. Derren berpikir seperti itu, namun hatinya merasa ada yang mengganjal, Rayna tidak pernah seperti ini. Chat Derren pun Rayna abaikan.

“Woy bro, kenapa,  lo? Tumben amat galau kaya gitu. Bukannya harusnya elo seneng ya, kemarin di sana ketemu cewek-cewek cantik,” kata Bimo teman Derren.

“Diem.”

“Jangan jutek gitu, cepet tua baru tahu rasa.”

“Gue bingung. Kenapa cewek kalo lagi ngambek gak mau ngomong sama kita para cowok ya?” kata Derren.

“Elo punya cewek, Ren. Mustahil banget elo punya cewek.” Bimo terkejut dengan pengakuan Derren. Derren yang terkenal manusia berhati dingin suka dengan cewek. Berasa seperti mendengar berita kalau personil BTS pindah kewarganegaraan jadi WNI.

“Punyalah, emang elo jomblo kok abadi,” ejek Derren.

“Ehh, enak aja kalo ngomong. Emang siapa pacar, lo? Sifa?” tebak Bimo. Ya, Sifa siswi dari MIPA 2 yang terkenal cantik dan pintar. Sifa selalu menagatakan kalau pacarnya adalah Derren, tapi Derren tidak pernah mengakui kalau Sifa adalah pacarnya, karena Derren memang tidak menyukai Sifa. Apalagi sifat Sifa yang angkuh dan selalu menang sendiri. itu semakin membuat Derren tidak menyukai Sifa, meskipun begitu Sifa tetap menadi primadona SMA Taruna Wijaya.

“Sifa? Enggaklah mending gue jomblo seumur hidup daripada harus pacaran sama Sifa,” kata Derren sambil bergidik ngeri.

“Lha terus?”

“Ra.....” ucapan Derren terputus saat melihat Rayna lewat dari depan kelasnya. Derren langsung berdiri dan berlari menghampiri Rayna yang sudah sampai di lorong

“Hoy makhluk jomblo, elo belum selesai cerita!” teriak Bimo.

Derren tetap mengejar Rayna. Rayna berangkat kesiangan jadi mau tidak mau dia parkir di belakang dan akhirnya harus lewat kelas Derren. Demi apapun Rayna menyesali kenapa dia kesiangan, kenapa tadi dia gak naik angkot saja atau bahkan kenapa dia gak bolos sekalian aja.

Rayna mempercepat langkahnya, Rayna takut kalau Derren akan melihatnya dan....

“Ray!!!” panggil Derren.

Belum sempat rasa cemas rayna hilang Derren sudah memanggilnya. Kaki rayna spontan berhenti, entah kenapa rasanya untuk melangkah itu sangat sulit.

“Tunggu.” Derren mencekal lengan Rayna.

Jantung rayna sudah berdetak snagat keras. Apa karena ada Derren di depannya. Jujur rayna malu, entah mengapa Rayna malu. Malu karena marah dengan Derren. Karena Rayna sadar siapa dia siapa Derren.

“Kenapa, kak?” tanya Rayna sambil tersenyum.

“Jangan tersenyum, karena aku melihat kesedihan dimata kamu.”

Rayna menelan ludahnya. Kenapa mendadak Derren mengatakan itu ya? Apa karena emang kelihatan banget kalau Rayna bersedih.

“Sekarang kakak udah ketemu sama kamu, kamu harus jawab pertanyaan kakak. Kenapa kamu menghindar dari kakak?” tanya Derren pelan.

“Rayna gak menghinar kok kak, Rayna emang lagi sibuk aja. Maaf kalau kakak jadi merasa kaya gitu. Oh iya udah mau masuk kak, rayna harus ke kelas.” Rayna melewati Derren begitu saja.

Derren menghela napas pelan. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Rayna jadi seperti ini. Apa Derren melakukan kesalahan? Derren tidak bisa didiamkan oleh rayna seperti ini.

“Kamu kenapa, dek?” tanya Derren lesu. Derren berjalan lesu menuju kelasnya. Tidak mendapat hasil apapun menghentikan Rayna. derren juga tidak tahu lagi karena Rayna tidak pernah menceritakan apapun kepada Deerren. Sumpah, demi appaun Derren lebih memilih mengerjakan soal kimia 100 dari pada harus menebak hati Rayna.

Rayna duduk dengan lesu, memegang dadanya yang sudah bergemuruh.

“Ray!!!” kaget Nando.

“Bikin kaget aja si!” kesal Rayna.

“Elahhh, ngapa ngos-ngosan gitu, kaya abis lihat hantu aja. Why?” tanya Nando.

“Gaya lo, Nan pake bahasa inggris. Sok-sokan mau jadi bule.”

“Gue gini-gini fasih bahasa inggris tau, makanya Gas, elo kalo mau belajar bhasa inggris bisa belajar sama gue,” kata nando menyombongkan diri.

“Elahh nilai 46 aja elo banggain,” ejek Jasmin.

“Ehh min, kalo mau ngomong fakta mending nanti aja deh.” Nando melempar kacang atom ke wajah Jasmin.

“Jorok ih, Nando.”

“Bisa pada diem gak si! Aku lagi mikir nih.” Rayna memarahi ketiga temannya yang sudah membuat kepalanya semakin lebih pusying.

“Emang nanti ujian ya? Pake acara mikir segala?”

“Jangan samain otak aku sama otak kamu, Gas. Yang mikir kalo psa lagi ujian aja!” sindir Rayna.

“Ray, ucapan lo menusuk hati Abang. Sakitnya tuh di sini,” kata Bagas sambil memegang dadanya dengan tampang memelas.

“Jijik!” rayna hampir mutah melihat tampang Bagas yang sok tersakiti.

Rayna masih terpikir oleh Derren, apa Rayna tidak berlebihan ya? Marah dengan Derren? Bukannya harusnya dia gak marah? Kekanakan gak si kalo marah gara-gara gak dikasih kabar? Kekanakan ya? Kok Rayna jadi takut kaya gini ya?

“Ini guru pada kemana si? Gak ada kabarnya sama sekali. Bel udah bunyi 20 menit juga,” kata Nando sambil melihat jam di dinding.

“Sok-sokan nanyain guru padahal elo juga berdoa supaya kosong,” sinis Jasmin.

“Kadang otak lo emang cerdas, Min. Tapi jangan suudzon, gue lagi kangen sama Bu Rere makanya gur tungguin kedatangannya Bu Rere,” jelas Nando. Jasmin melongo mendengar pengakuan dari Nando seorang Nando Hermansyah merindukan Bu Rere? Apa gak salah? Kayanya salah deh? Yang ada Bu Rere yang rindu gak jewer telinga si Nando gegara gak ngerjain tugas keuangan.

“Waras, lo?” bagas memegang dahi Nando. “Pantes, Panas!”

“Kamrpret!!!” teman-teman Nando tertawa melihat reaksi Nando yang di sangka lagi rada-rada konslet.

“Assalamualaikum warrahmatullahiwabarokatuh.” Pengumuman dari balik speaker kelas sudah membuat Nando dan Bagas bersorak ria.

“Diem.” Bagas memberi aba-aba kepada semua siswa untuk diam.

“Diberitahukan kepada seluruh guru untuk mengikuti rapat komite sekolah. Kemudian, untuk siswa kelas X, XI, dan XII untuk belajar mandiri hinggarapat selesai. Sekian wassalamu’alaikum warrahmatullahiwabarokatuh.”

“Yeeeeeeeeeeeee!!!!!!!” bagas dan Nando langsung lompat dan lari ke belakang. Gak terkecuali Rayna dan Jasmin. Semua siswa bahkan berteriak senang. Ini sudah tradisi kalau ada jam kosong, sudah pasti semuanya teriak. Gak terkecuali.

Meskipun disuruh belajar mandiri, tapi kebanyakan siswa lebih memilih ngobrol atau ke kantin timbang baca buku. Kalo enggak  ngegosipin oppa-oppa yang sekseh. Uhhh surga dunia itu kalau ada jam kosong.

“Ayo kepojokan,” ajak Nando.

“Mau ngapain lo? Jangan-jangan mau nonton bokep ya, lo?” selidik  Jasmin.

“Kalian berdua mau ikut? Ayok nanti gue ajarin berbagai macam gaya,” kekeh Bagas

“taik lo!” kesal Jasmin.

“Orang kita mau ke warung koh Acong kok mau sekalian mabar, lumayan wifi sekolah sampai ke sana. Nanti gue kasih gaya buat matiin lawan,” jelas Nando.

“Kirain gue elo mau hehihe.” Jasmin menringis memperlihatkan rentetan gigi putihnya.

“Suudzon ae lo min. Gak baek kata pak uustad.”

“ya udah sana pergi!” usir Jasmin.

“Huuuu... yukk out.” Nando, bagas, dan teman-teman lelaki mulai berhamburan keluar menuju markan tersembunyi milik Koh Acong.

Markas koh Acong adalah markan tepat di sebelah kanan tembok deket parkiran. Jangan khawatir mereka gak lompat pagar, hanya saja mereka membuat lobat besar yang ditutupi kardus untuk keluar. Di sana juga tempat aman buat merreka-mereka yang udah capek sekolah dan bolos.

Bagas dan Nando bukan tipe perokok, jadi mereka emang bener-bener mabar. Game udah jadi pacar setia mereka. Mau dipisahin kaya apapun gak bakal bisa.

“Ray, keluar yuk. Boring gue di sini. Kuping gue panas banget anjir, dari tadi pad ngomongin oppa-oppa. Mending ngomongin kakek gue kek yang nyata ada,” kata Jasmin sambil menutup kedua telinganya.

“Kemana?” tanya Rayna.

“Kantin. Beli es buah, gue ngidam es buah.”

“Boleh, yuk.”

Rayna dan jasmin ke kantin. Kantin sudah sangat penuh dengan manusia-manusia lapar. Ini ni jam kososng juga membawa rejeki Ibu dan Bapak kantin, tapi juga pembawa derita buat siswa karena pemborosan tingkat haqiqi.

“Cing, es buahnya 2,” kata Jasmin.

“Siap, neng. Bentar.” Dengan sigap Cing Lilis meracik es buah.

“Ini neng.”

“Makasih, Cing.”

Lalu Rayna dan Jasmin mencari tempat kosong. Duduk berdua sambil menikmati es buah. Padahal masih pagi kenapa harus minum es. Kan gak bagus? Bodo, otak Rayna lagi butuh siraman qolbu jadi, es buah ini salah satu pendinginnya.

“Gimana?”

“Apanya?”

“Kak Derren?” rayna sudah bisa menebak arah pembicaran Jasmin. Siapa lagi yang akan Jasmin tanyakan kalau bukan masalahnya dengan Derren.

“Auk ah gelap!” jawab Rayna malas.

“Terang-terang gini gelap.”

“Gak tau aku tuh, Min.  Udah ah pusing pala aku, mau meledak nih,” kata rayna sambil menyuapi es buah ke mulutnya.

“Dek, boleh bicara.”

“Uhukkk....” rayna menyemburkan es buah yang sudah masuk ke dalam mulutnya. Ini pati gara-gara suara bass itu. Kampret.

“Rayna jorok!” Jasmin mengangkat es buahnya yang kena semprot Rayna.

“Gue ke toilet dulu. Jorok banget lo jadi cewek.” Jasmin meninggalkan Rayna berdua dengan Derren.

“Jas, mau kemana! Jasmin bayar es  buahnya, kampret!” kesal rayna.

“Sejak kapan seorang jasmin ngomong kaya gitu?” Derren duduk di depan Rayna sambil mengelap bekas air muncratan rayna.

“Dari orok!” Rayna berdiri ingin pergi. Tapi, tangan kokoh derren dengan sigap mencehag rayna.

“Tunggu!”

“Kalau mau bicara jangan di sini. Aku tunggu di belakang kampus,” kata Rayna lalu berjalan pergi.

“Oke kakak segera ke sana.” Derren lalu pergi dengan cepat.

Rayna merutuki dirinya sendiri kenapa bodoh banget, harusnya kan bisa menolak keinginan Derren, lha ini malah ngajak ketemu. Mau bicara apa Rayna.

“Shit!! Ini mulut emang berbisa banget. mau di taro dimana ini muka kalo nanti udah ketemu sama Kak Derren. Aish, nyesel gue,” kata rayna merutuki diri sedniri. Entah sejak kapan rayna mengatakan kata ‘gue’ padahal dalam kamusnya tidak pernah tertera kata gue, elo. Ibunya yang mengajarkanya karena menurut fara kata elo, gue itu adalah kata kasar. Tapi sekarang, Rayna mengatakan kata gue yang seumur-umur baru pertama kali ini dia katakan tanpa disadari.

Rayna berjalan dikoridor kelas. Kenapa Rayna mau saja diajak jasmin ke kantin. Padahal rayna udah tau kalau Derren suka ke kantin. Oon emang si Rayna. pasti ini akal-akalannya si Jasmin. Awas aja si Jasmin akan kena amukan Rayna.

Derren sudah duduk di bangku belakang sekolahan, menunggu Rayna dengan harap-harap. Takut kalau rayna gak datang. Tapi, apa salahnya memberikan kepercayaan. Toh orang yang dipegang adalah ucapannya.

“Ehem...” Rayna berdehem dengan keras.

Derren menoleh ke arah Rayna. senyum Derren sangat sumringah, matahari aja kalah cerahnya. Waktu yang ditunggu Derren selama ini sudah tiba. Dia akan mendengarkan penjelasan dari rayna apa yang sebenarnya terjadi.

“Kakak mau tanya apa?” tanya Rayna.

“Gak mau duduk dulu, biar kelihatan santai aja.” Rayna lalu duduk di samping Derren. Seperti dejavu saat Rayna duduk di taman malam-malam dan Derren meminta nomor telepon Rayna secara terang-terangan.

“Apa yang mau diomongin kak?” tanya Rayna lagi.

“Kenapa kamu menghindar, dek?” Derren mulai membuka pertanyaan kepada Rayna.

“Aku gak menghindar kok, kak. Aku cu....”

“Kalau kamu gak menghindar kenapa sembunyi kalau ketemu kakak. Kenapa chat kakak gak pernah kamu balas sedikitpun. Telepon kakak juga dimatiin begitu aja. Apa itu bukan namanya menghindar?” skak Derren.

“Kak, aku.....”

“Kamu mau bilang kalau kamu sibuk?” potong Derren cepat. “kakak Cuma butuh wwaktu satu detik kamu, dek.ak satu jam. Balas pesan kakak. Kakak Cuma butuh waktu sepuluh menit kkamu, bukan sepuluh jam kamu, angkat telepon kakak. Udah itu aja. Enggak yang lain. Kenapa sekarang kamu jadi kaya gini,” kata Derren sambil menyentuh kedua bahu Rayna. jujur Rayna juga gak tahu harus jawab apa. Rayna bingung apa yang harus dia lakukan. Tapi, pernyataan Derren membuat dada Rayna sesak. Derren tidak apa yang rayna rasakan.

“Kakak mau jawaban dari aku? jawaban apa yang kakak butuh. Jawaban jujur, atau jawaban bohong?” tantang Rayna. derren bingung, kenapa sekrang Rayna malah memberikan pertanyaan itu. Semua orang menginginkan jawaban jujur. Kenapa Rayna masih bertanya.

“Keduanya, jelaskan sama Kakak apa yang ingin kamu jelaskan. Kakak terima konsekuensinya kalau kakak salah,” jawab Derren percaya diri.

“Kakak bilang sama aku, aku hanya butuh waktu satu detik buat balas pesan kakak. Aku Cuma butuh waktu sepuluh menit buat angkat telepon kakak. Sama kaya aku, kak. Aku hanya butuh waktu satu menit kak Derren buat hubungi aku kalau kakak lagi pergi buat olimpiade. Udah gak lebih,” jelas Rayna. jujur rayna mengatakan itu sembari menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar.

“Kakak sekarang udah tau kan alasan aku menghindar dari kak Derren? Kalau emang kak Derren mau pergi, pergi sejauh yang kak Derren mau. Tapi satu, jangan singgah di hati aku. memberikan harapan yang tidak aku pahami, lalu pergi semudah itu tanpa dosa sama sekali. Kakak tau kan rasanya?” kata Rayna yang mulai meneteskan air mata.

“Mungkin kedengerannya konyol, kak. Aku ngehawatirin orang yang gak ada hubungan apa-apa sama aku. mungkin aku egois karena udah berlebihan kaya gini. Tapi setidaknya jangan sia-siain aku. aku udah percaya sama kakak. Aku udah mencoba percaya sama kata-kata kakak, kalau kakak gak akan pergi ninggalin aku tapi nyatanya setidak pentingnya aku sampai-sampai buat ngasih kabar ke aku aja kakak gak mau. Tapi sudahlah, Rayna emang konyol.” Rayna menghapus air matanya yang jatuh.

“Udah gak ada yang perlu kakak dengar lagi kan? Kalau begitu aku pergi lagi, permisi.” Rayna balik kanan dan pergi meninggalkan Derren. Namun Derren menarik lengan Rayna dan membawa Rayna kepelukannya. Uhhh udah kaya film india ya.

“Maaf, sudah membuat kamu khawatir. Jangan pergi.” Derren memeluk Rayna dengan erat.

“Perasaan kakak ke kamu gak pernah berubah, dek. Masih sama kaya dulu. Maafin kakak, kakak pergi gak bilang ke kamu. kakak pergi ikut olimpiade waktu itu secara dadakan. Hp kakak juga ketinggal di rumah, dek. Sesampai di sana Kakak udah harus di karantina selama 2 hari, tadinya kakak mau telepon kamu. tapi, kakak belum hapal nomor kamu. kakak pasrah, habis itu kakak mau buat kejutan. Kakak berjanji sama diri kakak sendiri kalau kakak memenangkan olimpiade itu kakak mau traktir kamu, dek. Tapi takdir berkata lain kakak kalah. Kakah hanya masuk juara harapan 1,” kata Derren jujur.

Rayna diam saja, kenapa sebodoh itu pikiran Rayna. harusnya rayna bisa mendengarkan Jasmin. Benar yang dikataakan Jasmin, Derren sedang berjuang untuk SMA nya. Bukan malah Rayna marah-marah tanpa jelas.

Rayna membalas peluka Derren, tangis Rayna semakin pecah.

“Maafin aku, kak. Aku udah egois, maafin aku. harusnya aku dukung kakak bukan malah ngehindar dari kakak kaya gini. Maafin rayna kak,” kata rayna menyesal.

“Sudah, dek. Sekarang semua sudah jelas. Kakak mohon sama kamu, kalau ada apa-apa cerita sama kakak. Kakak gak mau kamu diemin kakak kaya gini kakak gak bisa. Kakak lebih baik kena marah langsung sama kamu, dek. Daripada kamu diem dan membuat kakak hampir gila.”

“Maaf.”

Derren menghapus air mata Rayna. “Kakak seneng ternyata kamu khawatir sama kakak. Kirain kamu gak nyariin kakak,” kata Derren.

“Kakak gak tau paniknya aku kaya gimana di sini, apalagi semua orang bilang sebentar lagi Kak Derren bawa cewek sehabis olimpiade, tambah kepikiran aku.”

Derren tersenyum melihat kecemburuan Rayna. “Kamu cemburu?” tanya Derren.

“Enggak!” jawab rayna. derren lalu terkekeh melihat wajah Rayna yang merah merona.

“Gak usah ketawa. Aku gak cemburu, mau kakak bawa siapa aja juga terserah. Aku juga sadar aku bukan siapa-siapa,” kata rayna kesal.

‘Dasar  manusia kampret!’ batin Rayna. ‘Udah buat aku nangis, tengsin lagi.

“Kakak udah bilang, rasa kakak ke kamu gak pernah hilang. Mau sekaranga ataupun tujuh tahun yang lalu. Kakak tetap menyayangi kamu, jadi jangan berpikir yang aneh-aneh.”

“Siapa yang berpikiran aneh, aku B aja kok.”

“Gemesin  banget si.” Derren mengusap kepala rayna dengan geregetan.

“Tapi bener juga si yang dikatakan mereka, aku pulang bawa cewek.”

‘Deg!!!’ kejujuran Derren membuat Rayna diam. Senyum yang sedari tadi mengembang kini pudar begitu saja.

“Iya gak apa-apa. Kapan-kapan kenallin ke aku,” jawab rayna.

‘Apanya yang sayang, udah bawa cewek juga. sakit hati aku di PHP kaya gini,

“Kamu mau lihat orangnya. Orangnya ada di depan aku sekarang.”

“Ha???” Rayna melongo. Di depan Derren. Satu-satunya manusia yang di depan Derren adalah rayna. jadi?

“Kamu cewek itu,” kata Derren sambil tersenyum.

Rayna tersenyum mendengar pengakuan Derren. Dunia berasa jadi indah kalau kaya gini. Duh, kok jadi baper ya? Mau kek cowok kaya derren. Hahaha.

“Akan ada saatnya kakak mengungkapkan sesuatu. Meskipun sudah kakak ungkapkan sekarang, bagi kakak itu masih kurang. Jadi, jangan berpikir kakak akan pergi, bukannya kita sudah janji.”

 "Kakak mau bilang apa?"

"Jangan pergi, ataupun jangan pernah memilih pergi. Kakak akan selalu memilih kamu apapun keputusan kakak. Jadi, kalau emang kakak salah, langsung aja bilang. Karena kakak gak mau kamu pergi ninggalin kakak hanya karena masalah sepele. Janji kakak adalah, menjaga kamu, mencintai kamu, dan menyayangi kamu sepenuh hatimu."

"Kakak sayang sama kamu," Kata Derren yang langsung memeluk Rayna.

"Maafin aku, kak."


**************


Aku hanya perlu satu ciptaan Tuhan sepertimu. Jadi, aku akan menjaga ciptaan Tuhan itu, sebaik yang ku mampu.


Jangan lupa like, coment.


Thank You..


Salam


Eka Bie

DerRay ~ 5

 

Jika memang ini adalah perasaan cinta, maka jangan datang memberi bahagia lalu pergi begitu saja.

~ Rayna Ramadhani

 

 

Bingung adalah kata yang tepat untuk Rayna. rayna tidak tau, tentang semua perasaan yang ada di hatinya. Jika memang ini bukan rasa cinta, tapi kenapa Rayna merasa sakit saat melihat Derren sedih. Seolah ada magnet yang menarik Rayna untuk memberi semangat kepada Derren. Namun, jika ini memang rasa cinta. Kenapa setengah hati kecil Rayna menolak bahwa dia mencintai Derren. 

Entahlah, Rayna tidak tahu.

Rayna hanya minta, jika memang rasa yang Rayna miliki ini adalah rasa cinta, jangan datangkan luka pada akhirnya. Karena Rayna belum siap merasakan sakitnya luka.

“Kak Derren kok gak ngehubungi aku ya? Biasanya dia bangunin aku buat sholat tahajud, kok sekarang enggak. Udah setengah tujuh juga, tapi kok gak ngasih kabar ya?” kata Rayna pelan.

Drrrt.... Drrttt....’ Rayna segera membuka ponselnya, berharap Derren yang mengirim pesan itu.

Jasmin Cerewet

Ray, berangkat bareng ya? Gue ke rumah, lo.

 

Rayna menghela napas pelan, bukan Derren ternyata tetapi Jasmin.

Rayna

Iya kesini aja, jangan lama-lama aku tunggu.

 

Rayna mengirim pesan itu kepada Jasmin.

“Bu, Rayna berangkat ya?” kata Rayna.

“Gak sama Derren?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Ya karena kak Derren gak jemput Rayna, bu.”

“Ya udah deh, hati-hati ya?” ada rasa yang hilang dalam diri Rayna, saat Derren tidak memberi kabar kepada Rayna. Apa ini adalah definisi cinta, takut kehilangan?

“Assalamu’alaikum.” Rayna mencium tangan Fara.

“Wa’alaikumsallam.”

“Ray, ayo udah siang nih.” Jasmin sudah memegang sepeda Rayna dan siap membonceng Rayna.

“Main ambil sepeda orang aja,” kesal Rayna.

“Ya udah ayo. Mau kena hukum?”

“Iya-iya.”

“Bu, berangkat ya!” teriak Jasmin.

“Hati-hati...” belum sempat meneruskan ucapannya, Jasmin sudah menggayuh pedal sepeda dengan cepat. Fara hanya geleng-geleng kepala melihat Jasmin yang ngebut membawa sepeda Rayna.

“Jas, kalo bawa sepeda hati-hati.”

“Elo diem aja deh, jangan banyak bicara, Neng Jasmin lagi fokus nyetir,” kata Jasmin sambil menggayuh sepeda.

Rayna mencibir saja di belakang Jasmmin, kalau diboncengnya sama Derren, mungkin beda lagi ceritanya. Lha ini sama Jasmin, gak ada seru-serunya gitu. Ibarat Le Mineral yang katanya ada manis-manisnya gitu mendadak ada pahit-pahitnya gitu.

Kenapa pikiran Rayna terbang ke Derren? Rayna menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayangan Derren.

“Ray, diem-diem bae,” ucapan Jasmin mengangetkan Rayna.

“Katanya suruuh diem, Neng Jasmin masih nyetir.”

“Gak diem kaya patung juga kali, Ray.”

“Serba salah deh!” kesal Rayna.

Sesampai di sekolahan, Jasmin memarkirkan sepeda Rayna. mata Rayna melihat kanan Kiri, mengamati satu persatu kendaraan yang sudah tertata rapi di parkiran.

“Ray,” senggol jasmin.

“Kok gak ada motor Kak Derren ya?’ kata Jasmin. Ternyata Jasmin juga sedang mengamati setiap inchi parkiran hanya untuk melihat motor Derren.

Sumpah demi apapun, Rayna mendadak galau. Kegalauan Rayna hanya karena satu orang Derren. Apa ini juga definisi cinta? Galau karena seseorang.

“Gak tau!” Rayna langsung meninggalkan parkiran. Mood Rayna hancur, sangat hancur.

Jasmin yang meihat perubahan pada diri Rayna jadi  merasa aneh. Ada apa dengan Rayna?

“Ray, tunggu!” Jasmin mengejar Rayna.

Pikiran Rayna sudah sangat kacau, entahlah semuanya membuat Rayna terbebani. Mulai dari tentang rasa yang ada di hatinya, Derren yang tak kunjung Rayna temui. Sesulit ituah memberi kabar?

Dimana kamu, kak?’ batin Rayna.

Rayna hampir menangis. Keadaan ini belum pernah Rayna alami. Baru kali ini Rayna merasa kehilangan. Salah ini kedua kalinya Rayna merasa kehilangan, pertama Rayna kehilangan ayahnya. Kedua, Derren pergi meninggalkan Rayna tanpa ada kabar. Apa ini juga pengertian cinta? Meneteskan air mata hanya karena orang itu pergi tanpa kabar?

“Lo tau gak kalau ketos SMA kita sekarang ikut olimpiade tingkat Provinsi. Mewakili DKI Jakarta,” kata salah satu siswi yang mungkin fans Derren.

Rayna memperlambat jalannya saat mendengar kata Ketos dari seorang siswi. Rayna mulai memasang telinga dan mendengarkan semuanya.

“Serius, lo.”

“Mana  mungkin gue bohong. Kakak gue yang bilang semalam, kakak gue kan satu kelas sama Kak Derren. Berangkat semalam sehabis maghrib,” jelasnya.

“Wahhh... keren ya, kalau Kak Derren lulus siapa yang mau gantiin dia coba, udah ganteng, otaknya triple-triple lagi.”

“Hooh, gue juga bingung makan apa tuh Kak Derren bisa kaya gitu.”

Rayna mempercepat langkahnya, perassaanya kesal kepada Derren, entah mengapa Rayna ingin marah kepada Derren. Tega dia gak ngasih kabar kepada Rayna. Apa susahnya memberi kabar.

Satu hal, Rayna membenci Derren! Ingat Rayna membencinya.

Padahal jika dipikir Derren buka pacar Rayna, tapi kenapa Rayna membenci Derren? Dimana salah Derren?

Jasmin yang melihat kesedihan di wajah Rayna hanya diam saja. Rayna ingin menangis, jujur Rayna ingin menangis.

“Ray, sabar ya.” Jasmin menepuk lembut bahu Rayna.

Rayna memeluk Jasmin, tangis Rayna pecah begitu saja. Entahlah, kondisi Rayna kacau. Padahal Derren bukan siapa-siapa Rayna, hanya kakak kelas Rayna, tapi Rayna merasa ada yang hilang saat Derren tidak ada.

“Kak Derren llagi berjuang buat SMA kita, Ray. Kak Derren pasti kembali kok.”

Rayna  masih menangis dipelukan Jasmin, Rayna juga gak tau kenapa Jasmin bisa tahu kalau dirinya menangis karena Derren. Apa raut wajah Rayna sangat terlihat.

“Jas, elo apain si Rayna. sampai nangis gitu,” kata Nando.

“Apaan si! Gak gue apa-apain lah. Rayna nangis karena dia tadi gak dikasih uang jajan sama ibunya,” kata Jasmin bohong.

“Ya elah, Ray. Kaya anak kecil aja. Elo kan punya temen di sekolah ini. Kalo gak dikasih jajan gue siap kok bantuin elo,” kata Nando.

“Elo mau kasih, Do?” tanya Bagas.

“Ya enggak gue utangin maksudnnya,” kata Nando meringis.

“Pake uang gue aja, Ray. Gak usah lo balikin gak papa kok, gue iklas.” Bagas memberikan uang 10.000 kepada Rayna. padahal Rayna juga sudah diberi uang saku kepada Fara, tapi Jasmin mungkin tadi sedang mencari alasan supaya tidak mengatakan kalau Rayna menangis karena ditinggal pergi sama Derren.

“Gak usah, aku udah bawa bekel kok,” kata Rayna mengembalikan uang Bagas.

“Gak papa, Ray. Gue masih ada uang kok. Gak usah khawatir, apa sih yang engga buat elo,” kata Bagas sambil meringis.

“Gak usah, Gas. Jasmin tadi udah kasih uang ke aku kok. Makasih ya?” kata Rayna.

“Jadi ini gak mau?”

“Enggak makasih.”

“Alhamdullilah, gak jadi berkurang.” Bagas mengusap dadanya dan mencium uang 10.000 itu lalu memasukkannya ke dalam kantong.

“Dasar Gas LPG!” omel Jasmin.

“Mimin oh... mimin ohh... miminnnn I Love You.”

“Gas LPG gila!” teriak Jasmin.

Rayna tertawa melihat kegilaan teman-temannya ini. Setidaknya masih ada yang membuatnya tersenyum lagi. ketika hatimu patah, di situ pasti akan ada orang-orang yang membuatmu tertawa. Teman contohnya.

Waktu berjalan sangat lambat, seakan membuat Rayna malas. Pikirannya sudah tidak bisa diajak kompromi. Apalagi tadi semua siswi mwmwbahs tentang Derren, dan parahnya lagi ada yang mengatakan pasti Derren pulang membawa pacar yang dia temui di lomba LCC, secara pasti cewek di sana cantik-cantik. Karena ada 34 provinsi di sana.

Rayna ingin menutup telinganya rapat-rapat tapi, tidak bisa. Karena telinga ditadirkan untuk mendengar.

Tuhan!!!! Cepatkan waktu ini segera!!!

“Ray... ayo cepet, mau pulang gak si!” jasmin menarik lengan Rayna, karena Rayna tubuhnya sangat tidak mood.

“Iya, Jas. Sabar kek.”

“Ray, kalau elo percaya Kak Derren bakal balik, gue yakin kak Derren balik kok. Jangan pesimis, Rayna.”

“Kok kamu tau kalau aku galau karena Kak Derren?” tanya Rayna.

“Ya udah sambil pulang ayo. Nanti aku ceritain.”

Rayna mengangguk lalu duduk di boncengan belakang. Jasmin mulai menggayuh sepedanya.

“Gue udah tau, Ray. Semennjak kejadian elo pingsan itu, gue lihat kepanikan Kak Derren waktu denger elo pingsan. Saat gue lihat Kak Derren ada di UKS disitu gue mulai curiga. Terus, waktu Kak Derren minta nomor telepon elo, dan waktu Kak Derren nyuruh elo buat merhatiin dia daripada novel di situ gue juga curiga. Mulai dari kejadian itu gue putusin buat jadi stalker elo kan? Nah, gue juga udah tahu waktu tujuh tahun itu, meskipun gue gak tahu pastinya peristiwa tujuh tahun itu, tapi gue dnger kalo payung ungu lo itu dari Kak Derren,” jelas Jasmin panjang lebar.

“Berarti kamu udah tahu semuanya,” kata Rayna kaget. “Bukannya kamu udah pulang naik angkit ya, Jas?”

“Yang namanya stalker juga pinter-pinter cari titik terang kali, Ray. Jadi, gue udah bisatebak elo dari tadi pagi sampai sekarang galau Cuma gara-gara Kak Derren. Tenang aja, Kak Derren sukanya sama, lo. Jadi gak mungkin kecantol sama cewek lain.”

“Bukan itu, Jas. Kayaknya aku gak ada hak buat khawatirin Kak Derren?” kata Rayna.

“Kok gitu?” jasmin memperlambat laju sepeda yang dibawanya.

“Aku gak ada hubungan apa-apa sama Kak Derren, Jas. Kalau aku mau marah sama Kak Derren juga percuma, aku sendiri yang bakal malu,” jelas rayna.

“Ray, bisa gak. Gengsi lo itu elo turunin sedikit aja. Elo udah kelihatan galau mikirin Kak Derren aja masih mau jaim ngaku, heran gue sama, lo.”

“Ya gimana, Jas. Kak Derren pergi tanpa ngasih kabar ke aku. Itu juga bisa ditarik kesimpulan kalau aku gak penting buat Kak Derren, Jas. Kalau aku emang penting di hidupnya Kak Derren, apa susahnya ngasih kabar? Lha ini, pergi tanpa ngasih alasan yang jelas main pergi aja.”

“Nah itu yang harus elo tunggu. Elo harus denger penjelasan Kak Derren kenapa gak ngasih kabar ke elo. Gue yakin Kak Derren bukan sengaja gak ngasih kabar ke elo, Ray. Elo sabar nunggu Kak Derren pulang, dengerin penjelasannya, baru elo bisa ambil kesimpulan,” jelas Jasmin pelan-pelan.

“Udahlah, Kak Derren udah gak peduli juga sama aku. mungkin yang kemarin-kemarin itu Cuma formalitas biasa aja. Gak mungkin juga Kak Derren suka sama aku, aku juga sadar diri, Jas. Udahlah aku gak mau berharap. Biarin aja!”

“Elo....”

“Udah, jas. Jangan diperpanjang lagi.”

Ternyata, berharap itu seperti berperang dengan bawang. Berakhir dengan tetesan air mata.

Jasmin hanya bisa diam. Biarlah Rayna yang mencari sendiri jawaban yang benar. Tapi, entah mengapa Jasmin yakin kalau Derren tidak seperti itu. Apalagi, Jasmin pernah dengar dari mulut tetangga kalau Derren tidak pernah dekat cewek lain. Itu berarti Rayna adalah satu-satynya Cewek yang Derren dekati. Jadi rasanya tidak mungkin kalau Derren dengan sengaja membuat Rayna sedih seperti ini. Pasti ada maksud.

“Udah gak usah sedih, gue mau pulang. Makasih ya, udah boleh nebeng. Besok lagi gue juga ikut sama lo ya, Ray. Itung-itung hemat ongkos,” kata Jasmin.

"Iya ke sini aja.”

“Udah gak usah cemberut gitu. Gue pulang ya, makasih.” Jasmin pulang setelah memberikan sepeda Rayna kembali kepemiliknya. Rumah Rayna dan Jasmin memang terbilang dekat, hanya berjarak 100 meter.

“Hati-hati!” teriak Rayna.

Jasmin mengangkat ibu jarinya tanda siap. Rayna lalu memasukkan sepedanya ke teras rumah.

“Assalamu’alaikum.” Salam Rayna tidak ada yang menjawab. Kemana Fara? Tidak seperti biasanya Fara tidak di rumah. Rayna baru ingat kalau hari ini hari Rabu, dan Fara sedang pergi arisan di rumah tetangga. Rayna lalu masuk begitu saja. Sepi, keadaan rumah sangat sepi. Sama seperti hati Rayna, sepi tak berpenghuni.

Rayna merebahkan tubuhnya ke  kasur. Mengecek hp yang sedari tadi tidak dia keluarkan. Hasilnya masih sama, tidak ada chat dari Derren. Hanya grup kelas yang sedari tadi pagi ramai entah membahas apa.

Apa benar yang dikatakan Jasmin, kalau kita tidak boleh jaim. Tapi, Rayna takut berharap. Rayna takut, jika dia mencintai Derren, Rayna hanya akan terluka. Karena Derren dan Rayna itu bagai langit dan bumi. Perbandingannya pun sangat terlihat. Derren yang sangat sempurna sedangkan Rayna yang tidak memiliki kelebihan apa-apa.

Rayna menghela napas pelan, hatinya semakin kacau. Kenapa pikirannya selalu negatif thingking kepada Derren.

“Ayo Rayna jangan pikirin Kak Derren terus. Nanti hati kamu semakin tidak tenang,” kata Rayna pada dirinya sendiri.

Rayna memejamkan matanya, lelah sudah pikirannya. Memikirkan Derren membuat tenaganya terkuras. Rasanya Rayna tidak semangat. Mungkin yang diucapkan mereka-mereka benar, Derren sudah tergoda dengan cewek yang ada di sana. Sudahlah jangan berharap.

 

Tiga hari kemudian

Ini adalah hari dimana Derren sudah pulang. Derren tersenyum sumringah. Bagaimana tidak, selama tiga hari dia di karantina. Derren harus berurusan dan mneguras otaknya untuk memenangkan olimpiade.

Tapi, ini adalah dimana hari Derren akan bertemu dengan Rayna. derren sangat merindukan Rayna. tiga hari Derren di karantina dia sellau terngiang oleh tawa Rayna. derren merindukan cewek itu.

Derren ke rumah Rayna untuk menjemput Rayna, namun Ibu Rayna mengatakan bahwa Rayna sudah berangkat sejak tadi pagi. Derren kemudian melanjutkan ke sekolahannya. Namun, saat diparkiran Derren tidak melihat sepeda Rayna? kata Fara, Rayna tidak berangkat. Namun, kenapa sesampai di parkiran sepeda Rayna tidak ada. Apa Rayna tidak membawa sepeda? Derren berjalan ke kelas Rayna. bukankah masih terlalu pagi untuk sampai di sekolahan.

“Dek, lihat rayna?” tanya Derren kepada teman Rayna.

“Belum berangkat, kak.”

“Ha... belum beramgkat!” Derren terkejut bukan main. Kemana Rayna, kenapa Derren tidak melihat Rayna juga.

Derren keluar dari kelas Rayna. kebingungan Derren semakin  menjadi karena sampai bell berbunyi Derren tidak kunjung melihat Rayna. mungkin istirahat nnati Derren akan bertemu dengan Derren.

 

 

Rayna masuk ke kelas lima menit setelah bel berbuyni. Rayna memang sengaja berangkat pagi-pagi. Namun, Rayna ke rumah Jasmin terlebih dahulu. Ada tugas kelompokk yang belum Rayna kerjakan, dan akhirnya rayna harus meluangkan waktu paginya ke rumah Jasmin. Padahal ada maksud lain dalam diri Rayna, yaitu mengindari Derren. Rayna sudah tahukalau Derren hari ini pulang. Biasa teman-temannya semalam ribut membicarakan Derren yang sudah pulang.

“Ray, tadi ada yang cari!” kata teman rayna.

“Siapa, Fis?” tanay Rayna kepada Nafis.

“Kak Derren.”

Satu nama namun membuat Rayna terkejut. Serius? Apa benar Derren mencarinya? Kayanya gak mungkin. Pasti Nafis ssdang becanda.

“Cieeeee.....” Jasmin, Bagas , dan Nando langsung membully Rayna.

“Apaan si!”

Rayna sedang tidak mood dengan Derren. Jadi, biarkan saja Derren mencari Rayna. rayna tidak peduli lagi. hatinya sudah terlanjur kecewa selama 4 hari. Jadi, sudahlah.

Bel isitrahat sudah tiba. Rayna bertugas mengembalikan buku ke perpun bersama Jasmin.

“Jas, ayo  ngembaliin buku. Berat ini,” kesal Rayna.

“Sabar, Ray. Berat mana si antara buku sama beban hidup, lo.”

“Gak usah bawa-bawa beban hidup aku juga kali. Udah ayo,” ajak Rayna.

“Iya nona Rayna yang cantik jelita.”

Rayna meringis mengdengar sebutan baru untuk dirinya. Rayna lalu membawa buku itu bersama jasmin. Sepanjang perjalanan Rayna becanda dengan Jasmin tentang tugasnya yang dikerjakan pagi tadi, bukankah itu hal konyol?

“Rayna!!!” panggil seseorang.

Rayna menghentikan langkahnya. Derren, kenapa harus bertemu Derren?

“Ray.” Derren langsung memelk Rayna.

“Maaf kak.” Rayna langsung melepas pelukan Derren.

“Maaf.” Derren merasakan ketidaknyamanan Rayna.

“Ayo, Jas.” Rayna berjalan melewawti Derren.

“Dek, tunggu!” Derren melarang Rayna untuk pergi.

“Maaf, kak. Aku lagi sibuk. Ada hal yang harus aku urus. Ayo, Jas.” Rayna lalu pergi begitu saja. Tidak peeduli dengan kekecewaan Derren.

“Ray, elo tega sama Kak Derren?” tanya Jasmin.

“Dia lebih tega sama aku.”

“Ray....”

“Sudah, Jas. Jangan bahas Kak Derren lagi.”

Derren menatap kepergian Rayna. apa ada yang salah dengan Derren? Menagapa Rayna seakan menjauhi dirinya? Padahal Derren hanya merindukan Rayna saja, apa salah?

“Apa yang terjadi?”


*****************

Cinta adalah .........

Apa definisi cinta menurut kalian?

 

Jangan lupa vote and comment ya? Akan aku up segera

 

Thank you

DerRay ~ 4

Next ya guys. Udah lama gak up. Diusahakan up tepat waktu.

 

 

Bertemu dengan seseorang yang ingin kita temui memang terkadang bisa membuat kita menjadi bodoh sama seperti Derren. Setiap malam Derren selalu mengirim pesan kepada Rayna, meskipun terkadang Rayna tidak membalas pesan dari Derren. Tapi, yang namanya usaha karena Derren percaya usahanya tidak akan sia-sia. Kesempatan Derren untuk terus mewujudkan mimpinya ini akan dia buktikan. Derren tidak pernah bosan untuk menelpon Rayna, menemani Rayna mengerjakan tugas walaupun hanya sekedar becanda dan bernyanyi memnghibur Rayna.

Satu hal yang Derren suka, mendengar tawa Rayna.

Bukan Derren namanya kalau dia menyerah. Bertemu Rayna adalah harapan Derren sejak tujuh tahun lalu. Jadi, kesempatan ini tidak akan Derren abaikan. Ini adalah tiga hari setelah Derren mengatakan jujur kepada Rayna kalau dia adalah teman masa lalunya. Tiga hari juga Derren selalu datang ke kelas Rayna hanya untuk memberikan bekal makanan kalau Derren tidak melihat Rayna di kantin. Bodoh sekali memang, seorang Ketua Osis mau menghampiri Rayna. Alasan Rayna juga kadang tidak masuk akal saat dirinya ditanya kenapa gak makan di kantin? Jawabnnya sangat simpel, HEMAT. Selama tuga hari itu, Jasmin dengan resmi mendaji detektif cintanya Rayna. Why? Karena Jasmin yakin ada sesuatu diantara Derren dan Rayna. Tidak mungkin seorang ketua Osis yang notabenya dihormati mau rela-rela dateng ke kelas Rayna hanya untuk memberikan bekal  makanan. Oke fiks, Jasmin akan mengetahuinya segera.

Pagi-pagi sekali Derren sudah bersiap-siap untuk menjemput Rayna, helm sudah didipakan dua buah. Bahkan, Derren sudah memeriksa motornya terlebih dahulu. Perbutan Derren belum pernahdia lakukan sebelumnya, karena Rayna yang berhasil membuat dunia Derren sekarang berubah.

“Oma, berangkat dulu. Assalamualaikum,” kata Derren kepada Oma Dera.

“Hati-hati ya?” kata Dera.

“Oke, daa.”

Dera juga sempat bingung sebenarnya apa yang terjadi kepada Derren, kenapa jadi sesemangat ini. Padahal biasanya Derren hanya biasa-biasa saja. Derren memang rajin, tapi serajin-rajinnya Derren, dia tidak pernah berangkat sekolah pukul 06.00 pagi.

Tujuan Derren kali ini adalah rumah Rayna. Pasti Rayna akan terkejut saat melihat Derren menjemput dirinya. Di sepanjang perjalanan senyum Derren tidak pernah se sumringah ini.

“Pagi yang indah,” kata Derren sambil mengendarai motornya.

25 menit untuk sampai ke rumah Rayna.

“Assalamualaikum,” kata Derren sambil mengetuj pintu rumah Rayna.

“Wa’alaikumsallam.” Fara membukakan pintu untuk Derren.

“Pagi, Bu.” Derren mencium punggung lengan Fara.

“Ehh, nak Derren. Tumben pagi-pagi ke sini?” tanya Fara.

“Mau jemput Rayna, bu. Raynanya belum berangkat kan?” tanya Derren.

“Masih pakai kaos kaki dia,” jawab Fara.

“Ray! Ada yang nyari!” teriak Fara.

“Iya sebentar.” Felling Rayna pasti itu Jasmin. Siapa lagi teman Rayna yang suka datang pagi-pagi buat berangkat sekolah bareng. Setelah selesai menggunakan kaos kaki, Rayna keluar sambil menenteng sepatu sekolahnya.

“Lho, Kak Derren?” kejut Rayna. Sungguuh Rayna terkejut, kedatangan Derren tiba-tiba. Derren tidak memberi pesan kepada Rayna bahwa Derren akan menjemout Rayna.

“Berangkat bareng yuk?” ajak Derren.

“Tapi?”

“Rejeki gak boleh ditolak,” kata Derren.

“Iya berangkat aja sama Derren, nanti pulangnya kamu bisa sama Jasmin,” kata Fara.

“Nanti biar Derren yang anter Rayna pulang, Tante. Masak Derren tega buat ninggalin Rayna sendiri. Derren tanggung jawab kok,” kekeh Derren.

Rayna mengggaruk kepala yang tidak gatal. Kenapa jadi seperti ini ya? Apa jangan-jangan niat Derren mau PDKT itu beneran?

“Ya udah sana berangkat, udah siang.”

“Ya udah, Rayna berangkat dulu, Bu.” Rayna mencium tangan Fara.

“Derren juga berangkat, Bu.” Derren juga ikut mencium tangan Fara. Rayna tertegun mendengar Derren menyebut Fara dengan sebutan Ibu. Yang boleh memanggil Ibu kepada Fara hanya Rayna dan Kakak Rayna, Febry.

“Maksud saya, Tante. Maaf.”  Derren juga tidak tau kenapa tiba-tiba mulutnya mengucapkan kata Ibu.

“Udah gak papa. Anggap aja Ibu sendiri,” kata Fara sambil tertawa.

Rayna mengerutkan keningnya, apa maksud Fara? Apa Fara mencoba membuka celah kepada Derren? Atau itu hanya sekedar candaan saja.

“ya udah ayo bernagkat udah siang,” kata Rayn mencoba menghentikan pembicaraan Fara dan Derren sebelum semakin meluas.

“Hati-hati di jalan ya, Rayna pegangan.”

“Apaan si, Bu. Assalamualaikum,” kata Rayna.

“Jaga anak gadis Ibu ya?” kata Fara.

“Rayna juga udah gede kok, Bu.”

“Tenang aja Tante, akan Derren pastikan Rayna aman sampai rumah,” kata Derren yakin.

“Udah mau berangkat gak si! Kalau enggak aku naik sepeda aja,” kata Rayna emosi.

“Berangkat dulu, Tante. Asslamualaikum,” kata Derren.

“Waalaikumsallam.”

Derren memberikan helm satunya kepada Rayna. Rayna yang menerima helm itu lalu memakainya. Di perjalanan Rayna bingung apa yang harus Rayna lakukan. Diam saja seperti patung atau gimana?

“Dek, makasih ya?” kata Derren.

“Buat apa, Kak.”

“Udah kembali lagi.”

Rayna tersenyum, dalam hati Rayna juga mengatakan terima kasih kembali karena sudah datang lagi.

“Terima kasih kembali, kak.”

“Kakak bahagia, jangan pergi lagi ya, dek.”

“Kan kakak yang pergi, aku masih di tempat yang sama kok,” jawab Rayna.

“Kakak gak akan pergi lagi kok, janji.”

Rayna tersenyum, entah mengapa rasanya hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan. Dalam hati Rayna sempat menyesal karena terkadang dia tidak membalas chat dari Derren.

“Kak, maafin Rayna ya?” kata Rayna pelan.

“Maaf kenapa?”

“Kadang aku gak bales chat kakak. Padahal aku udah janji bakal balas chat kakak,” kata Rayna.

“Kalau soal itu kakak yang minta maaf, dek. Kakak selalu ganggu kamu. tapi, kalau kakak boleh jujur, tangan kakak gatal gak chat kamu. meskipun gak kamu balas chat kakak sekalipun, maaf ya udah ganggu kamu,” jelas Derren.

“Makasih ya kak,” kata Rayna.

“Buat apalagi dek? Kok banyak banget makasihnya,” kekeh Derren.

“Udah telepon aku, nungguin aku ngerjain tugas setiap  malam, sampai-sampai kakak tertidur,” kata Rayna.

“Yang namanya berjuang kan gitu, dek.”

Rayna diam saja, memikirkan ucapan Derren. Apa yang diucapkan Derren itu benar. Kalau derren serius dengan apa yang dia ucapkan. Apa derren benar-benar suka sama Rayna? Semua pertanyaan itu hanya berputar-putar di kepala Rayna. Rayna tidak berani menanyakan langsung kepada Derren, takut kalau Derren hanya becanda.

“Udah sarapan?” pertanyaan Derren memecah keheningan Rayna.

“Udah, kakak udah?” tanya Rayna.

“Udah, si. Kamu bawa bekal gak?”

“Bawa kak.”

“Kenapa gak bawa aja, kakak siap kok jadi delivery nya kamu,” kata Derren.

“Gak mau, nanti repotin terus.”

“kakak seneng kok kamu repotin.”

“Aku yang gak seneng kak?”

“Kok bisa, kenapa?”

“Banyak gosip berterbangann kak?” kata Rayna sambil menghela napas.

“Gosip?” Derren mengerutkan keningnya.

Tanpa terasa, Derren dan Rayna sudah sampai di tempat parkir sekolah. Rayna turun dan memberikan helmnya kepada Derren.

“Iyalah, kak. Kakak kelas yang notabenya sebagai ketua osis jadi tukang deliverynya Rayna,” jelas Rayna.

Derren tertawa mendengar ucapannya Rayna.

“Gak usah didengerin ucapan mulut tetangga. Kamu tau, mereka itu hanya kurang kerjaan saja, makanya mau tidak mau ngomongin orang tanpa tau faktanya,” jawab Derren. “Gak usah diladenin, Dek. Kakak aja gak masalah kok.”

“Ya udah kak, aku ke kelas dulu. Sebelum Jasmin lihat aku dibonceng kakak. Bisa gawat.”

“Hidupmu gak tenang banget si, dek.” Derren tertawa melihat kepanikan Rayna.

“Gimana mau tenang kak, kemarin Jasmin sudah meeutuskan mau menjadi detektif, mau menyelidiki hubungan aku sama kak Derren,” jelas Rayna.

“Bukannya malah alhamdullilah ya, kan jadinya kakak banyak pendukungnya,” jawab Derren.

“Pendukung? Pendukung apaan?” Rayna tidka paham maksud Derren.

“Pendukung untuk mendapatkan cintanya Rayna,” jawab Derren.

“Ha???” rayna menelan ludah mendengar ucapan Derren. Ini telinga Rayna yang salah dengan atau emang Derren salah ngomong.

“Udah saba ke kelas, nanti kakak tunggu di parkiran.”

“Gak usah, aku naik angkot aja,” jawab Rayna gerogi.

“Kakak udah janji bakal bawa kamu ke Ibu, jadi jangan ajari kakak buat jadi pendusta.”

“Dia ibu aku kak, kakak gak boleh panggil Ibu aku dengan sebutan Ibu,” kata Rayna. Ya, telinga sangat sensitif saat ada orang lain memanggil Fara dengan sebutan Ibu, karena bagi Rayna, Fara adalah ibunya. Hanya Raya dann Febry yang boleh menyebutnya dengan sebutan Ibu.

“Dia akan jadi Ibu aku juga nantinya,” kata Derren sambil tertawa.

“Apa-apaan, aku ke kelas dulu.” Rayna memutuskan untuk pergi, sebelum Derren semakin membuat jantung Rayna berdetak tidak karuan, kehadiran Derren membuat Rayna pusing.

“Nanti aku tunggu di sini!” teriak Derren. Rayna berlari menuju kelasnya, pura-pura tidak dengar teriakan Derren. Derren yang melihat Rayna salah tingkah tertawa, sangat lucu  memang. Membuat Derren semakin bersemangat saja  mengejar Rayna. Entah mengapa kehadiran Rayna membuat hidup Derren berubah.

Kehidupan Derren yang tadinya biasa saja, sekarang lebih berwarna. Derren menyukainya, ya Derren menyukai Rayna sejak tujuh tahun lalu, Derren tidak bisa berhenti membayangkan kejadian tuhuj tahun lamanya. Berulangkali Derren ingin melupakan Rayna, namun gagal. Disetiap doa derren, selalu tersimpan nama Rayna, berharap Allah mau mengabulkan permintaannya untuk bertemu dengan Rayna. Takdir memang tidak pernah salah, takdir selalu mengabulkan apa yang Derren minta, meskipun Derren harus menunggu dengan waktu sangat lama, tidak masalah karena waktu sudah menjawab semua doanya.

 

 

Rayna menghela napas pelan, duduk di kursi kelas dengan perasaan kacau. Rayna memegang dadanya yang berdegub kencang.

“Kenapa jadi deg-degan ya?” kata Rayna.

“Ray, Ray. Ada berita gawat!” Jasmin datang dengan napas tersengal-sengal.

“Apaan!” Rayna ikut panik juga melihat kepanikan Jasmin.

“Kak Derren!”

“Ha!!! Kak Derren kenapa?” entah kenapa Rayna jadi panik sendiri mendengat nama Derren di dalam cerita Jasmin.

“Cie panik?” ledek Jasmin.

“Jasmin serius kenapa si!” omel Rayna. Jasmin meringis mendegar omelan Rayna.

“Itu Kak Derren boncengin cewek,” kata Jasmin mulai serius lagi.

“Ha?” rayna tidak paham maksud Jasmin.

“Tadi waktu aku lewat parkiran, aku lihat motor Kak Derren, terus aku amati tuh motor kak Derren, eh ada helmnya dua. Berarti Kak Derren kan boncengin cewek lain,” jelas Jasmin.

Rayna diam saja emndengar cerita Jasmin, gimana mau kaget, karena orang yang dimaksud itu adalah Rayna.

“Ohhh....”

“Kok Cuma Oh si, Ray,” kata Jasmin.

“Terus aku harus gimana?”

“Kaget kek denger berita kalo Kak Derren boncengin cewek lain,” kesal Jasmin.

“Ya gimana lagi, biarin aja. Jangan negatif thingking, Jas. Siapa tau Kak Derren nganterin Ibunya ke pasar,” kata Rayna.

“Kak Derren udah gak punya ibu.”

“Udah tau.”

“Elo tau darimana?” Jasmin mulai curiga kepada Rayna, kenapa tiba-tiba Rayna tau persoalan Derre. Bukannya Rayna tidak tau menau tentang Derren ya?

“Ha???”

“Kok elo bisa tau? Bukannya elo paling gak suka ya tentang Kak Derren, tapi kok elo tau kalo Ibu Kak Derren udah gak ada,” selidik Jasmin.

Rayna tertawa getir mendengar penjelasan Jasmin. “Kak Derren kan siswa famous Jasmin, semua siswi juga pada nyeritain kehidupan Kak Derren. Masa iya aku juga gak tau, satu kelas juga udah tau pastinya,” kata Rayna.

“Elo bener juga si.”

“Nah kan. Udah deh, ya mungkin aja Kak Derren tadi nganterin siapa, makanya bawa helm dua.”

“Semoga aja si, gue takutnya kalo dia boncengan sama cewek, Ray.”

“lha kenapa?”

“Karena gue tau elo suka sama Kak Derren.”

Rayna kaget mendengar ucapan Jasmin. “Kok bawa-bawa aku!” Rayan tidak terima dengan ucapan Jasmin. Apa-apaan, Rayna tidak suka kalau dia dibawa-bawa dalam masalah. Menyukai Derren sama saja mencari masalah.

“Hehehe.” Jasmin hanya meringis tanpa dosa.

 

 

Pulang tlah tiba, Rayna mau ke parkiran gak ya? Untuk menemui Derren. Ada beberapa hal yang mengganjal dipikiran Rayna. Rayna takut kalau ada orang yang melihat Derren membonceng dirinya. Rayna takut kalau ada yang tau kalau yang dibonceng Derren adalah Rayna. Ya, Rayna takut. Entahlah kenapa Rayna bisa setakut itu.

Tapi, jika dia pulang dan meninggalkan Derren, bagaimana kalau Derren menunggu Rayna. Mendung sudah tiba, bagaimana kalau Derren masih menunggunya.

Rayna memutuskan untuk ke parkiran. Sudahlah tida masalah ada yang melihat Rayna dengan Derren. Itu akan Rayna pikirkan nanti, setidaknya teman Rayna sudah sebagian pulang. Jadi, lumayan sepi.

Rayna berjalan menuju parkiran, meskipun setengah hatinya tidak tenang. Terlihat di sana Derren sedang duduk di atas motor, sesekali menyeka rambutnya yang ada di dahi.

“Kak,” sapa Rayna.

“Ehh kirain gak dateng,” kata Derren.

Rayna tersenyum simpul, “Pulang yuk?” ajak Rayna.

“Kenapa? Ada yang dipikirin?” tanya Derren. Derren melihat kegelisahan Rayna yang mengganggu pikirannya.

“Gak ada apa-apa kok, kak.” Rayna mencoba menutupi karena Rayna tidak mau Derren terlibat di dalamnya. Padahal secara tidak langsung Derrem juga sudah terlibat.

“Cerita aja, aku siap dnegerin.”

“Aku takut, Kak. Aku takut kalo ada orang yang tau kalau aku boncengan sama kakak. Aku takut, kalau ada yang lihat terus buat gosip. Aku tajut, Kak.” Rayna menundukkan kepalanya. Beban yang dia tanggung sebagian sudah hilang, Rayna juga tidak tau kenapa tiba-tiba hatinya menyuruhnya untuk mengatakan kepada Derren.

Derren menepuk bahu Rayna. “Kamu terrlalu baik, Dek. Kamu mau memikirkan orang lain. Padahal belum terntu orang itu mikirin kamu,” kata Derren tesenyum.

“Jangan takut, kenapa harus takut. Yang kakak tau seorang Rayna itu gak pernah takut sama apapun. Malah kakak denger waktu MOS kemarin kamu sempat bertengkar sama Kak Sifa, tuh kamu berani.”

“Beda, kak. Waktu itu Kak Sifa tarik rambut aku karena aku salah pake pitanya, aku tau itu salah aku, tapi Ibu aku aja gak pernah jambak aku, ya aku marrahlah,” jelas Rayna.

“Kakak juga marah kalau kakak lihat kamu diperlakukan kaya gitu, udah kakak marahin semua osisi kemarin,” kata Derren.

“Kakak marahin semua.”

“Iya. Jadi gak usah takut sama mereka, mereka yang bisanya ngomongin orang adalah mereka yang kurang kerjaan, jadi sudahlah. Biarkan saja mereka mebahas dunia mereka sendiri. bukannya harusnya kita senang ya, kalo dibicarain orang otu tandanya hidup kita bahagia, terus dosa kita berkurang deh,” kata Derren sambil tersenyum.

Derren benar, buat apa takut. Yang harus ditakuti itu Cuma sang pencipta sama orang tua. Takut sama mereka-mereka itu Cuma orang bodoh, karena tidak mau bersyukur sudah diberi kekuatan.

“Kak Derren benar, ayok pulang.” Rayna sudah bisa tersenyum bahagia.

“Udah gak sedih?” tanya Derren.

“Kan gak boleh sedih, kalau sedih tandanya kurang bersyukur,” jawab Rayna.

Derren tertawa lalu mengusap kepala Rayna.

“Ya udah ayo naik, mau hujan nanti kamu malah kehujanan.”

“Ayok.”

Derren lalu membonceng Rayna untuk pulang ke rumah. Rasa bahaia muncul begitu saja. Rayna bersyukur, Allah mengirimkan orang seperti Derren di hidupnya. Meskipun Derren terlalu sempurna, tapi Rayna bahagia.

“Pegangan.”

“Iya.” Rayna lalu mencekal tepi baju Derren, malu kalau mau peluk Derren.

“Kau begitu sempurna

Dimataku kau begitu indah

Kau membuat diriku akan slalu memujamu

Disetiap langkahku

Kukan slalu memikirkan dirimu

Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu

Janganlah kau tinggalkan diriku

Takkan mampu menghadapi semua

Hanya bersamamu ku akan bisaku

Kau adalah darahku...

Kau adalah jantungku....

Kau adalah hidupku, lengkapi diriku

Oh sayangku kau begitu...

Sempurna....

 

Rayna tertawa mendengar suara fals Derren, meskipun fals tapi terdengar cute.

“Kakak gak bisa nyanyi, dek.”

“Bagus tapi.”

“Dari hongkong ya?”

Dari hati aku,’ batin Rayna.

“Dari atas motor kakak,”  jawab Rayna. ya kali Rayna mau mengikuti kata hatinya, bisa-bisa dia salting di depan Derren. Tapi, meskipun begitu rasa nyaman datang begitu saja.

Derren dan rayna tertawa bersama. Meskipun waktu terbilang sangat singkat, namun bisa membuat Rayna melepaskan beban yang ada di pikirannya.

‘Terima Kasih Kak Derren.’

Sesampai di rumah Rayna, Rayna melepas helmnya.

“Mampir dulu?” kata rayna.

“Gak usah, udah mau hujan. Salam buat Ibu ya?” kata Derren.

“Dia Ibu aku kak,” jawab Rayna.

“Kan mau jadi Ibu aku juga,” kekeh Derren.

“Kakak ihh.” Rayna cemberut di depan Derren, dan ini membuat Derren gemas dibuatnya.

“Iya-iya. Salam buat tante ya?”

“Nah gitu dong.” Rayna tersenyum sambil mengangkat jempolnya.

“Besok mau dijemput lagi?”

“Gak usah, udah kaya tukang ojek aja,” kata Rayna.

“Gak papa asal sama kamu.”

“Kakak! Jangan buat aku baper deh.” Rayna  menutu wajahnya dengan tangannya. Rayna yakin, pasti wajah Rayna sudah merah. Derren tertawa melihat tingkah lucu Rayna.

“Lucu banget si,” kata Derren sambil mengusap kepala Rayna.

“Kak  buat baper anak orang juga dosa, lho.” Rayna menunjuk ke arah wajah Derrem. Itu sebagai peringatan. Wajah Rayna kali ini serius.

“Iya-iya maaf,” kata Derren menahan tawa.

“Ya udah aku mau masuk dulu. Kakak hati-hati di jalan ya?”

“Rayna, tunggu!” Derren mencekal lengan Rayna, mencegah Rayna untuk masuk ke dalam rumah. Rayna menatap tangannya, dag-dig-dug sudah jantungnya kali ini.

“Ke... kenapa, kak?” tanya Rayna gugup.

“Jangan tinggalin, kakak. Kakak mohon.”

Rayna masih menatap mata Derren, tersimpan ketulusan di dalamnya.

“Kakak mohon, jangan pergi lagi.” kenapa ada rasa yang mengganjal di hati Rayna ya? Kenapa hati Rayna seperti tersayat melihat kesedihan Derren. Rayna juga tidak tahu kenapa. Apa yang terjadi? Apa benar yang dikatakan Jasmin kalau Rayna menyukai Derren.

“Aku ada di sini kok, kak. Aku gak akan kemana-mana. Kapanpun kakak butuh aku, aku siap bantu. Percayalah, kalau aku ada di sini,” kata Rayna tersenyum. Mungkin kata-kata rayna terdengar puitis, tapi Rayna tulus mengatakannya.

“Janji.” Derren mengangkat kelingkingnya.

“Janji." Rayna menggabungkan jari kelingkingnya dengan jari Derren. Derren tersenyum, setidaknya semua itu sudah membua dirinya sedikit lebih tenang.

“Ya udah kakak pulang dulu,” kata Derren lega.

“Hati-hati.”

Rayna menatap kepergian Derren, dalam hati dia juga beroda supaya Derren juga tidak pergi. Rayna melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumah.


**********************************************************************************


Semesta punya caranya sendiri untuk mempertemukan kita, ebah melalui jalur apa saja. Namun, satu hal yang aku takutkan juga. Aku takut, bahwa semesta juga punya caranya sendiri unruk memisahkan kita.